SENAYANPOST – Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, membeberkan sisi gelap di balik angka 3.117 korban jiwa dalam kerusuhan di Iran belakangan ini. Ia menyebut terdapat "proyek berdarah" yang dirancang intelijen asing untuk sengaja menciptakan korban jiwa sebanyak mungkin demi memojokkan posisi Iran di mata internasional.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (22/1/2026), Boroujerdi mengklarifikasi bahwa dari total 3.117 korban, mayoritas atau sebanyak 2.427 jiwa adalah masyarakat sipil tidak berdosa dan aparat keamanan yang diklasifikasikan sebagai "Mati Syahid". Menurutnya, para korban ini bukan tewas oleh tangan aparat, melainkan korban dari kebijakan teroris yang sengaja mengincar nyawa siapa pun untuk dijadikan alat propaganda pelanggaran HAM.
“Meningkatnya jumlah korban bukan hal yang menguntungkan pemerintah Iran, melainkan menguntungkan pihak teroris di luar negeri. Mereka menginstruksikan oknum untuk menyerang aparat, dan jika tidak berhasil, mereka diperintahkan menyerang masyarakat sipil mana pun yang berada di dekat mereka,” ujar Boroujerdi merujuk pada hasil penyadapan komunikasi Mossad dan CIA.
Baca Juga: Dubes Iran Bongkar Infiltrasi Amerika dan Israel dalam Demonstrasi
Boroujerdi juga menceritakan serangkaian aksi brutal yang menurutnya hanya bisa dilakukan oleh kelompok teroris terlatih seperti ISIS. Ia mengisahkan seorang suster medis yang tubuhnya dibakar hidup-hidup saat sedang memberikan bantuan, serta insiden penembakan 11 orang dari jarak dekat saat mereka tengah dirawat di rumah sakit. Bahkan, ia menyebut adanya balita berusia dua tahun yang turut menjadi korban kekejaman kelompok tersebut.
“Masyarakat biasa tidak mungkin menyembelih seseorang atau membakar tubuh orang lain. Ini adalah pendekatan kaum ISIS dan teroris terlatih. Aparat kami justru diperintahkan untuk menahan diri, bahkan awalnya turun tanpa senjata hingga akhirnya terpaksa membela diri dengan instruksi hanya menembak bagian kaki agar tidak menciptakan korban jiwa,” tambahnya.
Pemerintah Iran mengeklaim bahwa pembatasan internet pada 10 Januari lalu menjadi kunci untuk memutus instruksi kebrutalan tersebut. Sejak komunikasi sel-sel teroris terputus, ketenangan dilaporkan mulai kembali di berbagai kota. Sebagai bentuk penghormatan, Iran telah mengumumkan tiga hari berkabung nasional dan berkomitmen menanggung seluruh kerugian materiil serta merawat luka masyarakat akibat apa yang disebutnya sebagai "fitnah luar negeri" tersebut. *