internasional

AS dan Iran Saling Ancam, Menlu Abbas Araghchi Peringatkan Risiko Konfrontasi Total

Rabu, 21 Januari 2026 | 22:02 WIB
AS dan Iran saling ancam di tengah ketegangan hubungan keduanya baru-baru ini, begini kata Menlu Abbas Araghchi. (Instagram.com/@araghchi)

SENAYANPOST - Amerika Serikat dan Iran masing-masing mengeluarkan ultimatum di tengah ketegangan hubungan dua negara tersebut.

Menanggapi ancaman terbaru dari Presiden AS Donald Trump, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan AS bahwa Teheran akan membalas serangan jika negara itu diserang kembali.

"(Kami akan) membalas dengan semua yang kami miliki jika kami diserang lagi", kata Abbas Araghchi pada 21 Januari 2026, dikutip SenayanPost.com dari Al Jazeera.

Baca Juga: Mantan Menlu Austria: Demonstrasi di Iran Dipicu Faktor Internal dan Eksternal

Peringatan Araghchi disampaikan dalam sebuah artikel opini yang diterbitkan oleh The Wall Street Journal pada hari Selasa.

"Angkatan bersenjata kami yang kuat tidak ragu untuk membalas dengan semua yang kami miliki jika kami diserang lagi," tulisnya, merujuk pada perang 12 hari yang dilancarkan Israel terhadap Iran pada Juni tahun lalu.

Menteri luar negeri tersebut berpendapat bahwa ini bukanlah "ancaman", "tetapi kenyataan yang menurut saya perlu saya sampaikan secara eksplisit, karena sebagai seorang diplomat dan veteran, saya membenci perang".

"Konfrontasi habis-habisan pasti akan sangat sengit dan berlangsung jauh lebih lama daripada skenario khayalan yang coba disebarkan Israel dan proksinya kepada Gedung Putih. Hal itu pasti akan meluas ke wilayah yang lebih luas dan berdampak pada masyarakat biasa di seluruh dunia," tambahnya.

Baca Juga: Timur Tengah Memanas, AS Masih Buka Opsi Dialog dengan Iran, Putin Ingatkan Situasi Genting

Pekan lalu, Iran menutup wilayah udaranya, kemungkinan sebagai antisipasi serangan AS.

Para diplomat dari negara-negara Timur Tengah, khususnya dari negara-negara Teluk Arab, melobi Trump untuk tidak menyerang.

Kapal induk USS Abraham Lincoln, yang berada di Laut Cina Selatan dalam beberapa hari terakhir, pada hari Selasa melewati Selat Malaka, jalur air utama yang menghubungkan Laut Cina Selatan dan Samudra Hindia, menurut data pelacakan kapal.

Meskipun para pejabat pertahanan AS tidak secara langsung mengatakan bahwa kelompok kapal induk tersebut sedang menuju Timur Tengah, lokasinya di Samudra Hindia berarti hanya beberapa hari lagi kapal tersebut akan memasuki wilayah tersebut.

Baca Juga: Iran Tegaskan Lindungi Hak Demonstran Damai, Ini Press Release Kedubes Iran di Jakarta

Halaman:

Tags

Terkini