SENAYANPOST - Viral sebuah video menunjukkan penggerudukan Rumah Sakit Nasional Suwayda oleh aparat keamanan Kementerian Pertahanan dan Kementerian Dalam Negeri Suriah.
Video tersebut mulai tersebar pada 10 Agustus 2025 dan menimbulkan polemik di tengah rakyat Suriah yang saat ini sedang menjalani masa transisi pemerintahan.
Sebagian menganggapnya sebagai bukti pelanggaran serius terhadap fasilitas medis, sementara lainnya meragukan keasliannya.
Sebagaimana dilansir dari Taakkad, platfrom cek fakta Suriah pada 12 Agustus 2025, rekaman CCTV tersebut tertanggal 16 Juli 2025 yang berlangsung antara pukul 3 dan 5 sore waktu setempat.
Rekaman CCTV dari pintu masuk juga menunjukkan bahwa momen eksekusi lapangan atau penembakan didahului oleh penggerebekan oleh orang-orang bersenjata, yang dua di antaranya berada di rumah sakit.
Satu mengenakan seragam keamanan publik dari Kementerian Dalam Negeri dan lainnya mengenakan seragam militer dari Kementerian Pertahanan.
Terlihat juga bahwa elemen keamanan publik mengenakan perban putih di tangannya dan mengenakan sandal medis, yang menimbulkan pertanyaan tentang identitas dan atasannya.
Kesaksian dari staf rumah sakit dan sumber lokan mengonfirmasi bahwa korbannya bukan seorang dokter, tetapi seorang insinyur bernama Mohammed Behasas, lulusan baru Fakultas Teknik Sipil di Universitas Latakia, yang bergabung dengan staf medis untuk memenuhi kekurangan tenaga medis.
Menurut kesaksian ini, orang-orang bersenjata menyerangnya, yang mendorongnya untuk bereaksi defensif yang berakhir dengan dua peluru bersarang di kepala dan jantung, yang menyebabkan korban meninggal di tempat.
Gambar seorang pria bersenjata bukan milik korban
Setelah viral video tersebut, tersebarlah foto seorang pria mengenakan seragam hijau untuk staf medis dan membawa senjata Kalashnikov, seperti foto-foto lainnya, yang sedang berdiri di mobil dengan senapan mesin berat di dalam area perumahan, mengklaim bahwa foto-foto ini milik Mohammed Behasas, korban yang terbunuh di dalam Rumah Sakit Nasional Suwayda.
Gambar-gambar ini diedarkan sebagai bukti yang menghubungkan korban dengan aktivitas bersenjata sebelum kematiannya, dalam upaya untuk mengubah konteks insiden yang didokumentasikan oleh CCTV.