Framing ini mirip pola lama: era Orde Baru punya 'PKI' sebagai label stempel musuh politik, era Jokowi punya 'Taliban', dan sekarang isu Palestina diwarnai 'Wahabi'.
Baca Juga: Hamas Pelajari Proposal Gencatan Senjata di Jalur Gaza yang Diusulkan Presiden AS Donald Trump
Menutup celah kebodohan publik
Bagi yang paham sejarah, Hamas adalah fenomena kompleks—gerakan perlawanan yang lahir dari realitas penjajahan, dengan ragam pengaruh ideologis, tapi tak bisa disederhanakan jadi stempel Wahabi.
Kalau semua yang pernah mengkaji kitab Ibnu Taimiyah dianggap Wahabi, setengah dunia Islam harus ganti KTP ideologinya.
Untung dunia ini lebih luas daripada pandangan sempit para penggiat narasi instan.
Dan kalau kita mau jujur, lebih banyak orang yang tak paham apa itu Wahabi ketimbang yang paham betul sejarah dan manhajnya.
Ironisnya, kebodohan inilah yang jadi bahan bakar empuk bagi propaganda.
Menyederhanakan Hamas menjadi sekadar 'Wahabi' bukan hanya keliru, tapi berbahaya.
Ia menutup ruang solidaritas, merusak kesadaran politik, dan secara tak sadar justru menguntungkan pihak penjajah.
Kalau kita masih punya akal sehat, kita akan belajar membedakan antara fakta, opini, dan propaganda.***
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Senayan Post.