Baca Juga: Qatar dan Mesir Minta Hamas Lucuti Senjata, Syarat Solusi Dua Negara Israel dan Palestina
Hamas bukan monolit ideologi
Abu Ubaidah, juru bicara Brigade Al Qassam, sayap militer Hamas memang pernah mengatakan Qassam adalah salafi.
Tapi konteksnya adalah salafi yang mengikuti empat mazhab yang diakui, bukan Wahabi anti-mazhab.
Fakta yang sering dilupakan ketika kita membahas soal ini adalah:
1. Hamas punya akar dari Ikhwanul Muslimin, yang secara politik dan metode dakwah berbeda dengan Wahabi.
2. Hamas pernah menjalin hubungan erat dengan Iran—sebuah negara Syiah. Ini mustahil dilakukan oleh Wahabi garis keras.
3. Banyak kader Hamas bermazhab Syafi'i, bahkan dalam pengajian mereka mengkaji kitab klasik mazhab tersebut.
Kalau Hamas benar-benar Wahabi, pertemuan Syaikh Ahmad Yassin dengan Ayatollah Ali Khamenei tak akan pernah terjadi.
Baca Juga: 639 Hari Peperangan dengan Israel, Hamas Sambut 'Positif' Proposal Gencatan Senjata di Jalur Gaza
Membaca motif di balik narasi
Narasi "Hamas adalah Salafi Wahabi" bukan sekadar salah paham.
Ia adalah framing yang punya berbagai motif politis, seperti menggeser opini publik — dari pro-Palestina menjadi netral atau bahkan skeptis.
Kemudian mengaitkan perlawanan Palestina dengan ideologi teroris yang dibenci di banyak negara.
Sayangnya, narasi ini juga memecah dukungan umat Islam dengan memanfaatkan perbedaan pandangan akidah.