Oleh: Yuda Alexander
(Penulis adalah kontributor opini dan pengamat isu Timur Tengah)
SENAYANPOST - Belakangan ini, ramai di media sosial narasi yang menyamakan Hamas dengan Wahabi.
Bagi telinga yang awam, klaim ini terdengar meyakinkan.
Mereka bilang Hamas itu manhaj salafi, mengaji kitab Muhammad bin Abdul Wahhab, dan mengamalkan ajaran Ibnu Taimiyah.
Kesimpulannya adalah Hamas otomatis Wahabi. Kedengarannya rapi.
Sayangnya, narasi ini rapuh seperti pasir di gurun—mudah runtuh saat disentuh fakta.
Salafi itu luas, Wahabi itu sempit
Pertama, kita perlu bedakan istilah.
Salafi secara umum berarti mengikuti manhaj (jalan) generasi salaf—para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in.
Di dunia Islam, banyak ulama dan gerakan yang mengaku salafi, tapi tetap bermazhab fiqih, seperti Syafi'i, Maliki, Hanafi, atau Hanbali.
Lalu ada Salafi Wahabi dari Nejed, yang identik dengan ajaran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Mereka cenderung anti-mazhab, anti-tradisi lokal, dan keras terhadap Syiah.
Menyamakan semua Salafi dengan Wahabi itu seperti menganggap semua vegetarian otomatis benci nasi Padang—logika yang lemah dan malas berpikir.