SENAYANPOST - Pada diskusi podcast di kanal YouTube Mahfud MD Official yang dikutip SenayanPost.com pada Sabtu 28 Juni 2025, Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Prof Dr Jenderal TNI (Purn) Abdullah Mahmud Hendropriyono membahas perihal Hamas.
"Sehingga, analisis saya agak lain. Kalau Hamas ini tersingkir dari Gaza, Palestina juga senang, jangan marah ini," ujarnya.
AM Hendropriyono menegaskan bahwa ketegangan di kawasan perlu dikelola secara hati-hati agar tidak meledak menjadi konflik lebih besar, apalagi di era proksi yang sarat adu domba intelijen.
Pandangan ini mendapatkan tanggapan dari Staf Khusus Penasehat Luar Negeri Kepresidenan Palestina Prof Dr Osama Syaath yang disampaikan kepada Redaksi Senayan Post pada Senin 30 Juni 2025.
Prof Dr Osama Syaath mengungkapkan bahwa kekuatan militer Hamas telah berkurang hingga 20 persen, termasuk pengaruhnya kepada Rakyat Palestina.
"Pandangan Prof AM Hendropriyono benar adanya. Perlu diketahui, kekuatan Hamas telah berkurang hingga hanya 20 persen dari kekuatan sebelumnya, akibat peperangan ini," jelasnya.
Pakar hubungan internasional ini juga mengungkapkan bahwa saat ini banyak pemuda keluar dari Hamas akibat sikap Hamas yang memonopoli bantuan kemanusiaan untuk para pengikut Hamas saja. Kehidupan di Jalur Gaza Palestina berubah, akibat sikap Hamas kepada Rakyat Palestina yang bukan pengikut Hamas dengan perlakuan yang tidak manusiawi.
"Ada perpecahan di internal Hamas. Kader-kader muda Hamas banyak keluar. Mereka kecewa atas perlakuan Hamas yang tidak manusiawi kepada warga biasa, terutama saat menyalurkan bantuan kemanusiaan," ungkapnya.
Hamas merupakan gerakan perlawanan bersenjata Palestina yang pada 7 Oktober 2023 melancarkan serangan ke wilayah Israel yang perang ini terus berkembang menjadi pertempuran antara Israel dan Iran sejak pertengahan Juni 2025 ini.
Mendiang Presiden Palestina Yasser Arafat seperti diungkapkan AM Hendropriyono menegaskan bahwa kemerdekaan Palestina hanya dapat diraih dengan jalur politik diplomatik.
"Jadi menurut almarhum, tidak akan bisa selesai selain dengan kekuatan politik, jadi harus dengan kekuatan politik," cerita AM Hendropriyono. (Muqoddas)