Sebelum serangan Israel, Iran dan AS sedang dalam pembicaraan untuk mengekang program nuklir Republik Islam itu dengan imbalan keringanan sanksi.
Baca Juga: Presiden AS Donald Trump Sebut Gencatan Senjata 'Lengkap dan Total' antara Iran dan Israel
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan pada hari Selasa bahwa negaranya bersedia untuk kembali berunding mengenai program nuklirnya, menurut media pemerintah.
Pezeshkian melakukan panggilan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden UEA Mohamed bin Zayed.
Pezeshkian meminta mitranya dari Emirat untuk menjelaskan kepada mereka, dalam hubungan Anda dengan Amerika Serikat, bahwa Republik Islam Iran hanya ingin menegaskan hak-haknya yang sah, mengacu pada program nuklirnya.
"Iran tidak pernah berusaha memperoleh senjata nuklir dan tidak mengupayakannya," katanya seperti dikutip oleh kantor berita resmi IRNA.
Ia menambahkan bahwa Iran siap untuk menyelesaikan masalah di meja perundingan.
Namun, serangan AS-Israel yang menyakitkan dapat mempersulit dimulainya kembali perundingan.
Pada hari Selasa, Alaeddin Boroujerdi, anggota komisi keamanan nasional dan kebijakan luar negeri di parlemen Iran, mengatakan kerja sama dengan IAEA harus ditangguhkan, Kantor Berita Mahasiswa Iran melaporkan.***