Yang Gugur dan Yang Terluka
Televisi nasional Iran, Tasneem, mengonfirmasi tewasnya sejumlah pejabat penting:
Jenderal Husain Salami (Komandan Garda Revolusi Iran)
Mayjen Gulam Ali (Komandan Brigade Khatimul Anbiya)
Faridun Abbasi (ilmuwan atom senior)
Muhammad Mahdi Thahranji (Rektor Islamic Azad University)
Sementara itu, Ali Syamkhani, penasihat tertinggi Pemimpin Spiritual Iran, dikabarkan mengalami luka berat.
Ini adalah kehilangan besar. Dalam dunia intelijen, ini disebut sebagai decapitation strike—memotong kepala, agar tubuh lumpuh.
Amerika Serikat: Netral atau Pemicu?
Serangan ini terjadi hanya dua hari sebelum Iran dan Amerika dijadwalkan melanjutkan negosiasi nuklir di Oman.
Teheran menduga kuat bahwa Israel mendapat ‘lampu hijau diam-diam’ dari Washington, sebagai bagian dari strategi tekanan maksimal agar Iran tunduk pada draft kesepakatan terbaru.
Draft itu sendiri kabarnya menyebut larangan produksi rudal dengan hulu ledak nuklir dan inspeksi tambahan oleh IAEA.
Lebih mengejutkan, muncul spekulasi bahwa terjadi kebocoran internal dalam tubuh militer Iran.
Baca Juga: Diserang Israel, Iran Berjanji Balas Israel dengan Serangan yang Setimpal
Beberapa analis Iran menyebut ini bukan sekadar serangan Israel, tapi juga hasil dari 'operasi kudeta intelijen'—dimana jaringan spionase Israel kemungkinan telah menyusupkan informan ke dalam struktur keamanan Iran.
Geopolitik Memanas, Jalur Minyak Terancam
Tak lama setelah serangan, harga minyak dunia melonjak 6,19 persen, dari USD 70,25 ke USD 74,60 per barel.
Bukan hanya karena kekhawatiran terhadap Iran, tapi juga ketegangan di Laut Merah dan Selat Hormuz.
Jika Houthi atau IRGC memutuskan memblokade Selat Hormuz—yang mengalirkan 20 persen suplai minyak global—krisis energi bisa jadi tak terhindarkan.