SENAYANPOST - Setidaknya 7.670 warga sipil tewas di Suriah setelah rezim Bashar Al Assad jatuh pada awal Desember 2024 dan digantikan oleh Ahmad Al Sharaa yang saat ini menjabat presiden sementara.
Laporan ini disampaikan langsung oleh Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) beberapa waktu lalu.
Menurut SOHR, jumlah tersebut mencakup lebih dari 2.130 'eksekusi di luar hukum' dan 'pembunuhan berdasarkan identitas'.
Lembaga pemantau perang itu juga memperingatkan adanya 'pola kekerasa terorganisasi' di seluruh negeri.
Lebih lanjut, SOHR menambahkan bahwa di antara mereka yang tewas termasuk wanita dan anak-anak.
"5.784 warga sipil, termasuk 306 anak-anak dan 422 wanita," bunyi laporan SOHR pada 8 Juni 2025, dikutip SenayanPost.com dari The Cradle.
"Jumlah korban yang mengerikan ini merupakan akibat dari kekerasan dan pelanggaran yang terus berlanjut oleh pihak lokal dan eksternal, di samping kekacauan keamanan yang meluas," lanjutnya.
Di samping itu, SOHR juga menekankan adanya situasi keamanan yang terus memburuk dan membahayakan masyarakat.
"Kerapuhan situasi keamanan dan meningkatnya bahaya bagi konstituen masyarakat yang paling rentan," terangnya.
SOHR juga mengungkapkan lebih dari 2.130 eksekusi 'dilakukan dengan cara yang brutal'.
Pada bulan Maret tahun ini, pasukan pemerintah Suriah melakukan serangkaian pembantaian brutal yang menargetkan warga sipil Alawi di pesisir Suriah.
Damaskus mengatakan akan meluncurkan penyelidikan, yang hasilnya belum dijelaskan.