Baca Juga: Citra Satelit Ungkap Kerusakan Pangkalan Udara Nevatim Israel Usai Dihantam Rudal Balistik Iran
"Dalam prosesnya, dunia telah berubah menjadi tempat yang jauh lebih berbahaya bagi kita semua di altar impunitas Israel," ungkapnya.
Lebih lanjut, Rabbani juga menggarisbawahi strategi Israel yang gagal untuk mengalahkan Hamas sebagaimana klaim Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
"Selama sebagian besar tahun lalu, Israel tidak hanya gagal mencapai sesuatu yang signifikan secara militer di Jalur Gaza, tetapi juga gagal mengutarakan strategi. Slogan seperti "kemenangan total" dan kompleks Churchill bukanlah pengganti visi politik," katanya.
Israel berpikir jika menghabisi pimpinan yang tergabung Poros Perlawanan maka kelompok tersebut akan melemah.
"Ini sekarang tampaknya berubah. Pembunuhan Sekretaris Jenderal Hizbullah Hassan Nasrallah oleh Israel, dan bersamanya hampir seluruh komando militer gerakan tersebut, telah memberinya keyakinan bahwa mereka dapat membubarkan koalisi yang dikenal sebagai Poros Perlawanan," terangnya.
Baca Juga: Link Nonton Drakor Black Out Episode 14 Sub Indo
Kemudian kita melihat saat ini Israel memindahkan konflik dari Gaza ke Lebanon.
Sebagaimana pantauan SenayanPost.com, pasukan Hizbullah berhasil memberikan pukulan besar pada tentara IDF lewat invasi darat.
"Inisiatif utamanya dalam hal ini adalah invasi ke Lebanon yang saat ini sedang berlangsung, dan di mana semua garis merah yang dilanggar di Gaza dilanggar lagi, sekali lagi tanpa ada suara dari ibu kota yang biasanya berkhotbah kepada para pesaing, musuh, dan makhluk yang lebih rendah lainnya tentang kesucian aturan hukum, hak asasi manusia, dan prinsip-prinsip serupa," pungkas Rabbani.***