SENAYANPOST - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu sampaikan rilis resmi usai terbunuhnya Sekretaris Jenderal Hizbullah, Hassan Nasrallah belum lama ini di Lebanon Selatan.
Upaya pembunuhan ini menambah daftar panjang kejahatan perang yang dilakukan Israel di Timur Tengah setelah sebelumnya menargetkan Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh di Iran juga serangan pager dan walkie talkie di Lebanon.
Dalam pernyataan resminya, Netanyahu mengatakan bahwa Hassan Nasrallah adalah teroris yang layak untuk dieliminasi.
"'Jika seseorang bangkit untuk membunuhmu, bunuhlah dia terlebih dahulu'. Kemarin, Negara Israel melenyapkan pembunuh ulung Hassan Nasrallah," kata Netanyahu pada 28 September 2024, dikutip SenayanPost.com dari Kantor Perdana Menteri Israel.
Baca Juga: Netanyahu Keukeuh Ingin Duduki Koridor Philadelphi, Eks Kepala Shin Bet Ungkap Alasannya
Netanyahu mengklaim bahwa Israel telah menyelesaikan masalah besar yang mengancam daerah utara yang berbatasan langsung dengan Lebanon.
"Kami telah menyelesaikan masalah dengan seseorang yang bertanggung jawab atas pembunuhan banyak warga Israel dan banyak warga negara lain, termasuk ratusan warga Amerika dan puluhan warga Prancis," lanjutnya.
Menurutnya, Nasrallah bukan teroris biasa namun teroris itu sendiri.
"Nasrallah bukan sekadar teroris biasa, dialah teroris itu sendiri," imbuhnya.
Sebagaimana diketahui, Hizbullah adalah bagian dari Poros Perlawanan bersama Iran.
Baca Juga: Pejabat Tinggi Israel Tolak Mentah-mentah Gencatan Senjata di Lebanon
"Dia adalah poros dari poros, mesin utama poros kejahatan Iran. Dia dan orang-orangnya adalah arsitek rencana untuk menghancurkan Israel. Dia tidak hanya dioperasikan oleh Iran, dia juga sering mengoperasikan Iran," ujarnya.
Setelah beberapa hari ini terjadi eskalasi serangan antara Hizbullah dan Israel, ia memutuskan untuk menargetkan tokoh senior gerakan perlawanan tersebut.
"Oleh karena itu, di awal minggu, saya sampai pada kesimpulan bahwa pukulan kuat yang telah dilancarkan IDF terhadap Hizbullah dalam beberapa hari terakhir tidaklah cukup," jelas Netanyahu.