internasional

DI BALIK BOM PAGER DAN WALKIE - TALKIE

Selasa, 24 September 2024 | 05:14 WIB

 

Dr KH As’ad Said Ali

Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara Republik Indonesia

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

 

Israel melakukan peledakan terhadap pager dan walkie talkie yang digunakan oleh pasukan Hisbullah  di Libanon Selatan. Banyak  pejuang Hisbullah meninggal dan luka-luka dengan meledaknya alat komunikasi buatan Taiwan yang mereka gunakan. Intelijen Israel mencuri dan berhasil mempelajari titik lemah teknologi pager dan walkie talkie buatan Taiwan tersebut. Tujuan utama dari  serangan Israel ini adalah untuk melindungi walayah Israel utara yang berbatasan dengan Libanon Selatan dari  serangan roket dan bom dari wilayah Libanon.

Sejak dua tahun terakhir, Israel menghadapi tekanan militer dari Palestina yang mendapat bantuan Iran yang kapasitasnya jauh lebih besar dari sebelumnya. Selain membantu Hizbullah di utara, Iran juga membantu Hamas di Gaza (area tempur bagian tengah) dan milisi Al Houthi di sisi selatan yaitu Yaman. Hal itu berarti, Israel menghadapi serangan di utara, di tengah dan selatan dari Iran. Al Houthi dalam hal ini berperan mengganggu rute kapal perang sekutu-sekutu Israel yang berlayar keluar masuk laut Merah dari Samudra Hindia.

Dengan dukungan dan bantuan drone Iran yang canggih, Hamas di sisi tengah melancarkan serangan roket dan drone dari Gaza ke wilayah Israel tengah. Sistem Pertahanan Udara Israel (Iron dome) yang dianggap tidak mungkin tembus, ternyata jebol, sehingga titik lemah Israel ini mendorong Iran untuk melakukan serangan rudal tahap kedua yaitu serangan rudal langsung dari wilayah Iran ke Israel.

Israel melakukan balasan dengan melakukan pembunuhan terhadap pemimpin tertinggi Hamas, Ismail Haniyeh ketika bertamu dalam rangka menghadiri pelantikan  Presiden baru Iran Masoud Pezeskhian di Teheran. Dukungan Iran terhadap Hisbullah (Shiah), Hamas (Sunni) dan Al-Houthi (Shiah) jelas mempunyai tujuan strategis.

Dilihat dari sejarah politik dikawasan Timur Tengah, tercatat terjadi  persaingan sengit antara Bangsa Arab versus Bangsa Persia. Perang Qadisiya misalnya pecah antara Bangsa Arab versus Bangsa Persia. Dan perang Qadisiya era modern terjadi ketika Saadam Husein dari Iraq menyerang rezim Ayatollah Khomeini. Namun kedua perang tersebut diakhiri dengan perundingan damai.

Lalu apa tujuan strategis Iran sekarang ini ? Iran jelas tidak punya ambisi teretorial merebut Tanah Arab.  Motif politik utama Iran adalah, pertama, keluar dari isolasi internasional yang diipimpin oleh AS dan Barat. Kedua  ingin melibatkan peran dalam hubungan regional Timur Tengah seperti pernah terjadi pada era Iran di bawah pimpinan Shah Reza Pahlevi di mana ketika itu Iran disebut sebagai “Polisi di Teluk Persia atau Teluk Arab.“

Kalau dicermati secara teiliti secara arif bijaksana, keterlibatan Iran dalam konflik Arab - Israel tersebut menguntungkan perjuangan Bangsa Palestina dan prestise Dunia Arab secara keseluruhan. Indikasinya jelas bahwa Israel belum pernah berada di bawah bayangan kekalahan di arena pertempuran seperti yang terjadi di Israel Utara dan 2 (dua) kali serangan rudal Iran mencapai Tel Aviv dan sekitar Yerusalem.

Kalau negara negara Arab mampu mendahulukan kepentingan Bangsa Palestina dibanding dengan perseteruan Bangsa Arab (Sunni) dengan Iran (Shiah), konflik Palestina akan dapat dipecahkan secara damai karena posisi Bangsa Arab lebih kuat dibanding Israel. Selama ini negara - negara Arab terlalu berlebihan khawatir terhadap perkembangan Shiah. Dalam hal ini Indonesia bisa berbagi pengalaman dengan Bangsa Arab, tidak perlu terlalu takut dengan ekspansi Shiah.

Shiah masuk ke Indonesia sejak abad ke-18, tetapi pemeluknya tidak seberapa dibanding dengan pemeluk Ahlua Sunnah. Kenapa ? Kata almarhum KH Abdurahman Wahid : “Akidah Shiah kita tolak, tetapi kita bisa berdamai dengsn budaya Shiah tertentu, misalnya perayaan Asyura.”

Bahwa apa yang dimaksudkan Gus Dur adalah dialog antara Sunni dengan Shiah adalah hal yang mungkin, terutama di bidang kebudayaan. Ini juga bisa dijadikan pendekatan untuk perdamaian Timur Tengah tanpa harus tersingkirnya Israel. Demikianlah maka perdamaian Timur Tengah bisa diselesaikan dengan pendekatan non-militer. Indonesia mempunyai pengalaman panjang dengan pendekatan damai seperti disinggung di atas.

Tags

Terkini