internasional

Mempertanyakan Rekonsiliasi Palestina di China, Ada Hal Baru ?

Rabu, 24 Juli 2024 | 20:50 WIB
Mayjen Purn Muhammad Ibrahim Ad Duwairi saat menerima penghargaan Pembebasan Sinai dari Pjs Presiden Mesir Adly Mansour

 

 

Mayjen (Purn) Muhammad Ibrahim Ad Duwairi

Pakar Strategis

Anggota Dewan Wali Amanat Egyptian Center for Strategic Studies

 

 

Tidaklah mungkin untuk membahas upaya apa pun yang dilakukan oleh negara atau lembaga mana pun untuk menghidupkan kembali rekonsiliasi Palestina. Termasuk menggambarkannya atau mengevaluasi hasilnya tanpa memberikan apresiasi dan dukungan terhadap semua upaya tersebut. Hal ini berdasarkan fakta bahwa rekonsiliasi Palestina akan tetap menjadi kewajiban bagi semua negara yang memandang hal ini sangat penting demi kemaslahatan rakyat Palestina.

 

Dari sudut pandang ini, patut diapresiasi atas upaya yang dilakukan China, yang mempertemukan 14 faksi Palestina selama 21 - 23 Juli 2024 ini, dengan partisipasi Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam pertemuan dan dialog yang pada akhirnya menghasilkan dalam apa yang disebut “Deklarasi Beijing untuk Mengakhiri Perpecahan dan Memperkuat Persatuan Nasional Palestina.”

 

Deklarasi tersebut ditandatangani oleh para perwakilan dan pemimpin faksi-faksi ini, dan agar adil, saya juga harus berterima kasih kepada Rusia dan Aljazair, yang sebelumnya menjadi tuan rumah pertemuan serupa pada saat itu tahun-tahun sebelumnya. Adapun ucapan terima kasih yang dapat saya sampaikan kepada Mesir, bukan sekadar ucapan terima kasih, melainkan pengakuan atas kenyataan bahwa masalah Palestina adalah salah satu masalah keamanan nasional Mesir yang paling penting.

 

Saya tidak akan membahas rincian atau analisis perkembangan terkini yang terjadi dalam rekonsiliasi Palestina di China, namun penting bagi saya untuk mengidentifikasi prinsip-prinsip terpenting yang terkandung dalam Deklarasi Beijing, termasuk yang berikut ini:

 

Halaman:

Tags

Terkini