SENAYANPOST - Ratusan penduduk ilegal Israel menyerbu kompleks Masjid Al Aqsa Palestina tepatnya di Bab Al Amud (Gerbang Damaskus) pada peringatan Perang 6 Hari.
Terlihat ratusan penduduk ilegal Israel menuju Kota Tua dari Bab Al Sahira (Gerbang Herodes), mengibarkan bendera Israel, dan menampilkan lagu serta tarian keras, untuk menandai pendudukan Zionis atas kota Yerusalem.
Kemarin, otoritas pendudukan Israel mengubah kota Yerusalem yang diduduki dan kota tuanya menjadi zona militer dengan dalih mengamankan 'pawai bendera' yang provokatif.
Sebagaimana dilansir SenayanPost.com dari WAFA News Agensi, otoritas pendudukan mengirim lebih dari 3.000 polisi ke Yerusalem yang diduduki, dan mendirikan pos pemeriksaan militer di jalan-jalan utama.
Mereka juga mengumumkan akan menutup rute-rute utama dan mengerahkan lebih banyak pasukan polisi mereka ke kota itu pada malam menjelang apa yang disebut Jerusalem Flag March yang akan melewati lingkungan Yerusalem Lama dan berakhir di Lapangan Tembok Al Buraq.
Gubernur Yerusalem mengatakan bahwa pawai tersebut adalah serangan terhadap status quo.
"Pawai bendera di jalan-jalan Yerusalem merupakan serangan terhadap status quo di kota yang diduduki, dan merupakan kelanjutan dari tindakan pendudukan Israel yang bertujuan untuk melakukan Yahudisasi di kota itu," katanya.
"Israel mengeksploitasi agresi terhadap rakyat Palestina di Gaza untuk memajukan Yahudisasi Kota Suci," imbuhnya.
Baca Juga: Fatah Kritik Hamas soal Operasi Militer Badai Al Aqsa 7 Oktober 2023 di Gaza
Tidak hanya itu, pawai tersebut juga dihadiri oleh menteri ekstrimis sayap kanan kabinet Netanyahu, Itamar Ben Gvir.
"Apa yang dikatakan Menteri ekstremis Ben Gvir tentang niatnya untuk berpartisipasi dalam pawai dan seruannya untuk menyerbu Masjid Al Aqsa merupakan provokasi terhadap perasaan jutaan Muslim dan serangan terang-terangan terhadap perwalian Hashemite di Yerusalem," tambahnya.
Patut dicatat bahwa 4.277 penjajah menyerbu Masjid Al Aqsa pada bulan Mei, menurut data dari Departemen Wakaf Islam di Yerusalem.
Tingkat penggerebekan oleh penjajah ekstremis ke Masjid Al Aqsa di Yerusalem telah meningkat secara signifikan sejak dimulainya agresi Israel di Jalur Gaza pada tanggal 7 Oktober.***