internasional

Muhammadiyah Memetik Kader Diasporanya

Selasa, 4 Juni 2024 | 22:11 WIB

 

Kehadiran Ustadz Adi Hidayat di Malaysia tersebut menandakan peran Muhammadiyah diperhitungkan dalam khazanah keilmuan keislaman di Nusantara. Sebagai satu-satunya organisasi keislaman yang kelahirannya direstui oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII, Muhammadiyah berhasil eksis di tengah terpaan ombak-ombak berbagai gelombang zaman dalam menjaga sanad keilmuan keislaman Nusantara yang berkemajuan.

 

Sebelum mendapatkan restu dari Sultan Hamengku Buwono VII, KH Ahmad Dahlan mendapatkan instruksi khusus untuk memperkuat jalinan para ulama tidak hanya di Makkah dan Hijaz akan tetapi juga Mesir dan Syam termasuk Palestina, Damaskus dan Baghdad. Jalinan keilmuan inilah yang nantinya mendukung jalan diplomasi kemerdekaan Indonesia yang proklamasinya dibacakan pada 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno, guru di Sekolah Muhammadiyah dan menantu dari Tokoh Muhammadiyah Hasan Din.

 

Ikatan yang memperkuat Umat Islam di berbagai dunia termasuk di Timur Tengah dan Nusantara adalah ikatan keilmuan yang tersambung dalam berbagai sanad keilmuan keislaman yang kuat dan menyesuaikan dengan perkembangan kondisi dan zamannya.

 

Hubungan Muhammadiyah dengan Al Azhar bukan hubungan yang baru. Kader-kader Muhammadiyah seperti HM Rasyidi yang menjabat menteri agama antara 1 Januari 1946 – 20 Oktobber 1946 adalah alumni Madrasah Mu’allimin Muhamamdiyah sekolah kader persyarikatan 6 (enam) tahun merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah dan sanad keilmuan keislaman yang berkemajuan di Indonesia.

 

Keinginan Prof Ali Jum’ah untuk berkunjung dan bertemu dengan tokoh dan warga Muhammadiyah perlu disambut dengan riang gembira tidak hanya oleh pimpinan dan para kader Muhammadiyah akan tetapi terutamanya kalangan akademisi keilmuan keislaman di Muhammadiyah.

 

Prof Ali Jum’ah merupakan ulama dengan berbagai karyanya dan usahanya dalam menghidupkan kembali khazanah keilmuan keislaman atau yang dikenal sebagai Ihya Turats akan menenggelamkan kita dalam diskursus dan pemahaman baru jika kita menyelaminya. Itulah yang disebut tajdid. Menjelaskan dengan menyesuaikan perkembangan zaman.

 

Selain penguatan sanad keilmuan keislaman yang berkemajuan, Muhammadiyah juga dapat menjalin kerjasama dalam bidang filantropi mengingat Prof Ali Jum’ah merupakan pendiri dan ketua Misr Khair salah satu yayasan filantropi terbesar di Mesir yang saat ini menyalurkan bantuan sosial dan kemanusiaan untuk Palestina.

 

Halaman:

Tags

Terkini