Raisi lahir di Masyhad di timur laut Iran, pusat keagamaan bagi Muslim Syiah.
Ia menjalani pendidikan agama dan dilatih di seminari di Qom, belajar di bawah bimbingan ulama terkemuka, termasuk Khamenei.
Sama seperti pemimpin tertinggi, ia mengenakan sorban hitam, yang menandakan bahwa ia adalah seorang sayyid, keturunan Nabi Muhammad, sebuah status yang sangat penting di kalangan Dua Belas Muslim Syiah.
Raisi mempunyai pengalaman sebagai jaksa di berbagai yurisdiksi sebelum datang ke Teheran pada tahun 1985.
Baca Juga: Heboh Dugaan Serangan Drone Israel ke Isfahan, Menlu Iran Justru Bilang Begini
Di ibu kota itulah, menurut organisasi hak asasi manusia, ia menjadi bagian dari komite hakim yang mengawasi eksekusi tahanan politik.
Mendiang presiden tersebut sudah lama menjadi anggota Majelis Ahli, sebuah badan yang bertugas memilih pengganti pemimpin tertinggi jika ia meninggal dunia.
Ia menjadi jaksa agung pada tahun 2014 selama dua tahun, ketika ia ditunjuk oleh Khamenei untuk memimpin Haram Suci Razavi.
Bonyad kolosal, atau lembaga amal, memiliki aset miliaran dolar dan merupakan penjaga tempat suci Imam Reza, imam Syiah kedelapan.
Raisi awalnya mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2017, namun gagal menantang terpilihnya kembali mantan Presiden Hassan Rouhani, yang mewakili kubu sentris dan moderat.
Baca Juga: Israel Kirim Serangan Balik ke Iran, Ledakan Terdengar di Pusat Kota Isfahan
Setelah jeda singkat, Raisi menjadi berita utama sebagai kepala baru sistem peradilan Iran, yang ditunjuk oleh Khamenei pada tahun 2019.
Ia menampilkan dirinya sebagai pembela keadilan dan pejuang melawan korupsi, dan melakukan banyak perjalanan ke provinsi-provinsi untuk mendapatkan dukungan rakyat.***