Dari jumlah tersebut, 480 diantaranya mengikuti rute Palestina yang diduduki Turki-Israel, sedangkan 221 sisanya singgah di Turki dalam perjalanan ke pelabuhan Haifa atau Ashdod.
Erdogan Tidak Menyerah dengan Tekanan AS
Hal ini terjadi setelah laporan pada bulan Desember mengatakan bahwa meskipun ada tekanan dari AS, Erdogan menolak untuk memutuskan hubungan historis Ankara dengan Hamas setelah Operasi Badai Al Aqsa.
Kekhawatiran Washington yang mendalam terhadap hubungan Turki-Hamas disampaikan ke Ankara oleh Brian Nelson, Wakil Menteri Keuangan AS untuk Terorisme dan Intelijen Keuangan, yang kemudian mengakui bahwa tidak ada transmisi uang yang terdeteksi antara Turki dan Hamas.
Namun, Nelson mengatakan di masa lalu, Turki telah memfasilitasi perolehan pendanaan bagi Hamas dan kini harus menerapkan undang-undang lokal untuk memberlakukan pembatasan terhadap transfer dana tersebut.
Menanggapi hal tersebut, kantor Erdogan mengeluarkan pernyataan yang mengingatkan Washington bahwa Ankara tidak menganggap Hamas sebagai organisasi teroris.
"Pertama-tama, Hamas adalah realitas Palestina, ia adalah sebuah partai politik di sana dan ia mengikuti pemilu sebagai sebuah partai politik dan menang," kata Erdogan.
"Kami membentuk kebijakan luar negeri kami di Ankara dan merancangnya hanya berdasarkan kepentingan Turki dan harapan rakyat kami," ujarnya.
Ia pun meminta pihak-pihak luar untuk menghormati kebijakan luar negeri Turki.
"Saya yakin lawan bicara kami menghargai langkah-langkah kebijakan luar negeri Turki yang konsisten dan seimbang dalam krisis dan konflik kemanusiaan," lanjutnya.
Baca Juga: Daniel Hagari Bantah Tawanan Israel Tewas Gegara IDF Usai Hamas Kirim Video Propaganda
Erdogan juga menegaskan bahwa Netanyahu terang-terangan melakukan genosida di Gaza.
"perkiraan kami adalah para pelaku genosida, para penjagal Gaza yang tertangkap basah terutama Netanyahu akan menerima hukuman yang adil," jelasnya.
108 hari perang berlangsung, Erdogan mengumumkan bahwa peluang perdamaian di Gaza telah berkurang dan dianggap hilang setelah berakhirnya jeda kemanusiaan akibat pendekatan Israel saat ini.