Dia mencatat tiga perkembangan sebelum Operasi Banjir Al Aqsa.
Pertama, marginalisasi perjuangan Palestina baik di tingkat lokal maupun internasional.
Kemudian secara terang-terangan Israel ingin memindahkan warga Gaza ke luar Palestina.
"Munculnya pemerintahan Zionis ekstremis yang memprioritaskan pengungsian rakyat kami dan memaksakan kedaulatan atas Masjid Al Aqsa," ujarnya.
"Dan proses normalisasi dan integrasi Israel ke kawasan Asia Barat dengan mengorbankan rakyat Palestina," imbuhnya.
Haniyeh juga mengatakan bahwa Israel telah gagal dalam mencapai tujuannya untuk menumpas Hamas.
Menurutnya, mustahil Israel akan memusnahkan Hamas seperti yang sering disebutkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Beberapa pengamat militer dan politik Timur Tengah juga mengatakan hal yang sama.
Baca Juga: Usai Kunjungan AS, PM Israel Benjamin Netanyahu Bantah Gusur Warga Gaza: Kami Memburu Hamas
Hamas sudah hadir sejak lama dan menjadi bagian dari warga Gaza.
"Hamas hadir di Gaza, Tepi Barat, Al-Quds, di diaspora, dan dalam hati nurani bangsa dan masyarakat bebas di dunia, itu tidak bisa dihilangkan. Hamas telah memasuki setiap rumah di negara Arab dan Islam, serta dunia," tegasnya.
Mengacu pada meningkatnya ketegangan di luar Gaza, Haniyeh mengatakan bahwa peristiwa yang terjadi di Tepi Barat adalah hal yang serius dan signifikan.
“Seluruh wilayah berada dalam kondisi yang sangat panas, dengan para syuhada di garis depan pendukung di Lebanon dan di tempat lain," pungkas Ismail Haniyeh.***