Sejauh ini, Israel sudah secara terang-terangan menargetkan warga sipil dalam operasi militernya, bukan Hamas seperti yang disampaikan sebelumnya.
"Kami tidak akan berhenti dan kami tidak akan berhenti sampai kemenangan karena kami tidak punya lahan lain dan tidak ada jalan lain," ujarnya.
Pernyataan Netanyahu itu langsung mendapat ejekan dari keluarga-keluarga tersebut.
Beberapa di antaranya mengacungkan tanda bertanya, dengan berbagai cara.
"Bagaimana jika itu adalah milik Anda? Ayah… anak perempuan… saudara laki-laki?" tulis salah seorang keluarga korban dalam sebuah poster.
Netanyahu menambahkan bahwa dia secara pribadi telah menghubungi Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk melakukan intervensi atas nama para sandera.
Kemudian istrinya, Sara, telah mengirimkan surat langsung kepada Paus.
Kesepakatan gencatan senjata sementara pada akhir November, yang ditengahi oleh Qatar dan Mesir, menunjukkan jeda tujuh hari dalam pertempuran dengan imbalan Hamas membebaskan 105 sandera dengan rincian 81 warga Israel, 23 warga negara Thailand, dan satu warga Filipina.
Sementara Israel membebaskan 240 tahanan keamanan Palestina dan mengizinkan peningkatan jumlah sandera dan tingkat bantuan kemanusiaan untuk memasuki Jalur Gaza.
Hamas mengakhiri gencatan senjata tersebut dengan menolak melepaskan lebih banyak perempuan dan anak-anak sebagaimana disepakati dalam perjanjian tersebut.***