SENAYANPOST - Pemimpin sayap militer Hamas, Yahya Sinwar menuntut beberapa syarat di tengah negosiasi antara Palestina dan Israel yang dimediasi oleh Mesir dan Qatar.
Yahya Sinwar menurut laporan menyampaikan kepada mediator bahwa satu-satunya pilihan yang tersedia bagi rezim Israel adalah pertukaran sandera berdasarkan prinsip 'semua untuk semua'.
Lebih lanjut, terjadi negosiasi tidak langsung yang sedang berlangsung hingga saat ini yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata baru antara pasukan pejuang Palestina dan Israel.
Sebagaimana dilansir SenayanPost.com dari IRNA, terungkap bahwa Sinwar yang merupakan pimpinan Brigade Al Qassam di Gaza telah mengirim pesan kepada mediator.
Baca Juga: One Piece 1102: 8 Tahun Hiatus, Karakter Ini Bakal Muncul di Saga Terakhir!
Ia menekankan bahwa waktu untuk perjanjian sementara telah berlalu, sehingga pertukaran sandera 'untuk semua' sebagai satu-satunya pilihan yang tersia.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, surat kabar Lebanon Al Akhbar juga memberitakan bahwa negosiasi antara Israel dan Hamas terkait gencatan senjata di Jalur Gaza sedang berlangsung.
Surat kabar tersebut mengatakan bahwa prinsip pembebasan sandera Israel dengan imbalan 10 tahanan Palestina tetap dibahas.
Di kesempatan yang berbeda, Kepala Politbiro Hamas, Ismail Haniyeh juga menyampaikan hal yang senada dengan Yahya Sinwar.
Baca Juga: Kekuatan Pendukung Ganjar Pranowo dan Mahfud MD di Luar Negeri, Gebrakan pada Bulan Desember
Haniyeh menyatakan bahwa tidak akan ada pertukaran sandera sebelum Israel menghentikan agresinya kepada warga sipil Gaza.
Ia juga menyerukan kepada dunia internasional untuk terus menekan Israel dan pendukungnya Amerika Serikat.
Di banyak kesempatan, Israel tetap membombardir Gaza di tengah gencatan senjata dan Hamas tetap menyepakati hasil negosiasi yang ditetapkan.
Israel mengklaim pejuang Hamas bersembunyi di rumah-rumah warga, tempat ibadah, hingga rumah sakit.