Pesan Terakhir Anas Al Sharif Jurnalis Al Jazeera yang Gugur Dibunuh Israel Penjajah: Jangan Lupakan Gaza dan Palestina

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Selasa, 12 Agustus 2025 | 19:01 WIB
Berikut pesan terakhir Anas Al Sharif, salah satu jurnalis Al Jazeera dibunuh Israel penjajah bersama lima lainnya. (Instagram.com/@anasjamal44)
Berikut pesan terakhir Anas Al Sharif, salah satu jurnalis Al Jazeera dibunuh Israel penjajah bersama lima lainnya. (Instagram.com/@anasjamal44)

SENAYANPOST - Jurnalis Palestina, Anas Al Sharif gugur bersama keempat jurnalis lainnya dibunuh Israel penjajah dalam sebuah serangan tertarget pada Minggu, 10 Agustus 2025.

Setelah kemartirannya dikonfirmasi, Anas yang juga jurnalis Al Jazeera merilis pesan terakhir untuk semuanya agar terus menyuarakan tentang Gaza dan Palestina.

Diketahui, Anas merupakan salah satu jurnalis aktif yang mengabarkan kepada dunia terkait agresi brutal Israel di Jalur Gaza selama hampir dua tahun terakhir.

Anas merupakan warga Gaza yang sebelumnya tinggal di kamp Jabalia.

Baca Juga: Hamas Kutuk Keras Pembunuhan Jurnalis Al Jazeera Anas Al Sharif dan Mohammed Qreiqeh oleh Israel: Kejahatan Biadab Melampaui Fasisme dan Kriminalitas

Pesan terakhir yang dirilis baru-baru ini aslinya telah ditulis dan disimpan oleh Anas pada 6 April 2025.

Berikut ini pesan terakhir Anas Al Sharif setelah gugur bersama keempat jurnalis lainnya dalam serangan biadab Israel sebagaimana dilansir SenayanPost.com dari X @AnasAlSharif0.

"Inilah wasiat dan pesan terakhirku. Jika kata-kata ini sampai kepadamu, ketahuilah bahwa Israel telah berhasil membunuhku dan membungkam suaraku. Pertama, semoga damai besertamu dan rahmat serta berkah Allah senantiasa menyertaimu.

Allah tahu aku telah mengerahkan segenap upaya dan kekuatanku untuk menjadi pendukung dan suara bagi umatku, sejak aku membuka mataku terhadap kehidupan di lorong-lorong dan jalanan kamp pengungsi Jabalia. Harapanku adalah Allah memperpanjang umurku agar aku dapat kembali bersama keluarga dan orang-orang terkasih ke kota asal kami, Asqalan (Al-Majdal) yang diduduki. Namun, kehendak Allah lebih utama, dan ketetapan-Nya bersifat final. Saya telah mengalami kepedihan dalam segala detailnya, merasakan penderitaan dan kehilangan berkali-kali, namun saya tak pernah ragu menyampaikan kebenaran apa adanya, tanpa distorsi atau pemalsuan—agar Allah menjadi saksi bagi mereka yang tetap diam, mereka yang menerima pembunuhan kami, mereka yang mencekik napas kami, dan yang hatinya tak tergerak oleh sisa-sisa anak-anak dan perempuan kami yang berserakan, tanpa melakukan apa pun untuk menghentikan pembantaian yang telah dihadapi rakyat kami selama lebih dari satu setengah tahun.

Saya mempercayakan Palestina kepada Anda—permata mahkota dunia Muslim, detak jantung setiap orang merdeka di dunia ini. Saya mempercayakan rakyatnya kepada Anda, anak-anaknya yang terzalimi dan tak berdosa yang tak pernah punya waktu untuk bermimpi atau hidup dalam keamanan dan kedamaian. Tubuh mereka yang murni hancur di bawah ribuan ton bom dan rudal Israel, terkoyak dan berserakan di dinding-dinding.

Saya mendesak Anda untuk tidak membiarkan rantai membungkam Anda, atau perbatasan mengekang Anda. Jadilah jembatan menuju pembebasan tanah dan rakyatnya, hingga matahari martabat dan kebebasan terbit di atas tanah air kita yang dicuri. Saya mempercayakan Anda untuk menjaga keluarga saya. Kutitipkan padamu putriku tercinta, Sham, cahaya mataku, yang tak pernah kulihat tumbuh dewasa seperti yang kuimpikan.

Kutitipkan padamu putraku tersayang, Salah, yang kuinginkan untuk kudukung dan dampingi sepanjang hidup hingga ia cukup kuat untuk memikul bebanku dan melanjutkan misi ini.

Kutitipkan padamu ibuku tercinta, yang doa-doanya yang penuh berkah telah membawaku ke tempatku berada saat ini, yang doanya menjadi bentengku, dan yang cahayanya membimbing jalanku. Kudoakan semoga Allah menganugerahkan kekuatan untuknya dan membalasnya dengan pahala terbaik untukku.

Kutitipkan padamu juga pendamping hidupku, istriku tercinta, Ummu Salah (Bayan), yang telah memisahkanku dari perang selama berhari-hari dan berbulan-bulan. Namun ia tetap setia pada ikatan kami, seteguh batang pohon zaitun yang tak goyah—sabar, tawakal kepada Allah, dan memikul tanggung jawab saat aku tiada dengan segenap kekuatan dan keyakinannya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: X @AnasAlsharif0

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X