Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara Dr As’ad Said Ali dalam tulisannya di situs Senayan Post menyampaikan gagasan tentang peran Indonesia sebagai mediator dialog antara elemen politik dan sosial di Palestina. Apa pandangan Anda tentang ide ini?
Setiap upaya dari Negara Islam, Negara Arab dan Dunia Internasional untuk menyatukan kekuatan dan barisan Bangsa Palestina adalah upaya yang terpuji karena hal ini dilakukan dalam konteks keinginan untuk mendukung perjuangan Palestina dan menyatukan pandangan politiknya.
Banyak pertemuan berskala regional dan internasional yang telah dilakukan sejak tahun 2007, dimulai dengan Mesir, Arab Saudi, Yaman, Qatar, Turki, Aljazair, China, dan Rusia, dan berulang kali disepakati tetapi sayangnya tidak dilaksanakan.
Menurut pendapat kami, ada 2 (dua) alasan utama tidak tercapainya rekonsiliasi. Alasan Pertama, salah satu kekuatan regional di kawasan Timur Tengah dan juadanya suatu Negara Arab yang menghalangi rekonsiliasi tersebut dengan harapan dapat melanjutkan perpecahan guna mempertahankan pengaruhnya terhadap isu-isu Palestina, agar dianggap sebagai pemain regional utama di kawasan Timur Tengah dengan mengorbankan Palestina. Selain itu, keinginan kekuatan regional ini untuk memiliki pengaruh maritim yang menghadap Laut Mediterania.
Alasan kedua adalah keengganan pihak Penjajah Israel, dan juga Amerika, untuk menggagalkan semua upaya persatuan, karena menyadari bahwa tidak ada solusi politik tanpa kesatuan geografis dan demografi, dan dengan demikian tidak aka nada kesatuan pengambilan Keputusan dari pihak Palestina.
Oleh karena itu, sehubungan dengan seruan ini, kami mempunyai pandangan yang mungkin baru dalam rangka mencapai rekonsiliasi Palestina, sangat berbeda dengan masa-masa sebelumnya, berdasarkan pada gagasan rekonsiliasi nasional yang komprehensif. Kami sampaikan secara akurat sebagai solusi, namun bagaimanapun juga, saya sangat menyambut baik gagasan untuk mencapai rekonsiliasi, dan Indonesia adalah negara yang dapat diandalkan. Namun kita harus berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan masa lalu.
Apa harapan Anda terhadap peran Indonesia sebagai salah satu pihak yang dapat berkontribusi terhadap perdamaian dunia, khususnya untuk mencapai kemerdekaan Negara Palestina?
Kami, Bangsa Palestina, selalu menantikan peran aktif Indonesia dalam isu Palestina, terutama karena Indonesia secara demografis adalah Negara Islam terbesar, dan kehadiran Indonesia di dunia internasional sangatlah penting.
Perlu dikembangkan inisiatif Negara Islam dan dunia internasional yang berdasarkan pada pertukaran kepentingan internasional, sehingga berdirinya Negara Palestina diperlukan untuk mencapai stabilitas, perdamaian dan keamanan internasional, sehingga negara-negara di dunia menyadari hal tersebut. Tanpa menyelesaikan masalah dan pembentukan Negara Palestina, tidak akan ada stabilitas, dan kepentingan regional dan internasional akan tetap berada dalam bayang-banyang keharusan melalui upaya-upaya normalisasi hubungan dengan Penjajah Israel dan perdamaian di kawasan Timur Tengah. Termasuk di antaranya mengamankan jalur pasokan dan pelayaran internasional.
Kita telah mengamati selama beberapa dekade terakhir keadaan konflik dan kehancuran yang terus menerus dan berdarah di kawasan Timur Tengah akibat kehadiran pendudukan Zionis Israel di Palestina. Perdamaian mencapai keamanan, stabilitas, serta pembangunan ekonomi dan kehidupan sosial. Tanpanya, kita akan terus berada dalam konflik dan perang yang tiada akhir di masa depan. Tentu saja perdamaian tidak akan tercapai kecuali dengan penarikan pasukan Penjajah Israel dari tanah Palestina dan Tanah Bangsa Arab. Tanpa hal itu, tidak ada harapan bagi upaya perdamaian.
Di sini, kami yakin akan ada peran penting bagi Indonesia jika gagasan pengiriman pasukan penjaga perdamaian internasional ke wilayah Palestina dilaksanakan sehingga penarikan pasukan Israel dapat segera terlaksana, seperti yang terjadi di banyak negara di dunia.