nasional

Opini: Menuju Indonesia Emas Dengan Ekonomi Biru

Rabu, 5 Juli 2023 | 19:34 WIB
Ilustrasi konsep tentang ekonomi biru atau blue economic. (deeptrekker.com)

Oleh: Dr. H.M. Amir Uskara
Ketua Fraksi PPP DPR RI/Ekonom

SENAYANPOST - Prospek ekonomi biru makin moncer. Betapa tidak! Dalam ASEAN Blue Economy Forum 2023 di Belitung, pada 2-4 Juli 2023 kemarin terungkap bahwa samudera dan lautan di Asia Tenggara akan menjadi tumpuan pengembangan ekonomi masa depan.

“Blue economy memiliki potensi besar di ASEAN karena lebih dari 66 persen area di wilayah Asia Tenggara adalah samudra dan lautan. Tidak diragukan lagi, blue economy memiliki pitensi untuk menjadi mesin baru bagi pembangunan ASEAN,” kata Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa.

Ekonomi biru, lanjut Suharso, sangat potensial menjadi sumber pangan, mata pencaharian, hingga penyedia air bagi ratusan juta masyarakat paling rentan di dunia.

Per-tahunnya ekonomi biru mampu menghasilkan 3-6 triliun dolar AS, dan membuka lapangan kerja 260 juta orang di dunia.

Baca Juga: Anya Geraldine Cari Asisten Pribadi Gajinya Rp30 Juta, tapi Syaratnya Ngeri Bisa Bikin Para Pria Minder

Terrestrial Ecosystem dan Marine Ecosystem

Melihat kebutuhan manusia modern yang sangat tinggi akan sandang, pangan, perumahan, transportasi, energi, farmasi, kosmetik, mineral, logam, dan lain-lain – terrestrial ecosystem (daratan) tak akan mampu lagi memenuhinya di masa datang.

Hal ini terjadi akibat tingginya konversi ekosistem hutan dan lahan pertanian menjadi land use lain (kawasan pemukiman, perkotaan, industri, infrastruktur); pencemaran; berkurangnya keanekaragaman jenis (biodiversity loss), kerusakan lingkungan, dan meningkatnya suhu bumi (global warming).

Semua ini menjadikan daratan 'makin rentan dan lemah". Maka, mau tidak mampu, untuk memenuhi kebutuhannya, manusia harus memanfaatkan marine ecosystem.

Baca Juga: Demi Keselamatan Pembalap dan Mengurangi Biaya Kecelakaan, Beberapa Tim MotoGP Protes Soal Format Balapan

Kita tahu 72 persen permukaan bumi adalah lautan. Dan saat ini, pemanfaatan marine ecosystem jauh lebih rendah dari pemanfaatan terrestrial ecosystem.

Berdasarkan riset mutakhir, kekayaan yang tersimpan di laut tidak hanya berbagai macam ikan dan mutiara, tapi juga energi (migas) dan bahan tambang lain. Sebagian besar cadangan migas berada di lautan. Belum lagi bahan tambang lain, di dasar lautan jumlahnya melimpah.

Bagi Indonesia, negeri kepulauan yang 77 persen wilayahnya adalah lautan, potensi ekonomi marine ecosystem-nya jelas sangat besar.

Halaman:

Tags

Terkini