Hendropriyono menilai pemikiran tersebut dapat berkembang menjadi kebijakan negara apabila memperoleh dukungan politik yang memadai.
"Ia dapat bergaung keras dan kemudian menjelma menjadi kebijakan negara," ujarnya.
Pertanyakan Strategi Menata Ulang Reformasi
Pertanyaan kedua yang disampaikan Hendropriyono berkaitan dengan perubahan lingkungan strategis global.
Ia menilai dunia saat ini menghadapi perubahan yang cepat, mulai dari rivalitas kekuatan besar, perkembangan teknologi, disrupsi ekonomi hingga pergeseran geopolitik.
Dalam kondisi tersebut, Hendropriyono mempertanyakan apakah koreksi terhadap reformasi cukup dilakukan melalui mekanisme politik yang berjalan saat ini atau membutuhkan strategi dan terobosan kelembagaan baru yang tetap berada dalam koridor konstitusi.
"Apakah reformasi masih harus kita koreksi semata-mata melalui mekanisme politik yang sekarang berjalan, atau diperlukan metode, strategi, bahkan terobosan kelembagaan lain yang tentu tetap konstitusional, agar gagasan menata ulang reformasi benar-benar dapat diwujudkan?" tuturnya.
Ia menegaskan, tantangan terbesar sebuah gagasan bukan hanya terletak pada kebenaran pemikirannya, tetapi juga kemampuan untuk menerjemahkannya menjadi tindakan nyata.
Menurut Hendropriyono, sebuah gagasan harus mampu bergerak dari pemikiran menjadi kemauan politik, kemudian menjadi kebijakan, hingga akhirnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
"Sebab kita semua tahu, bahwa tantangan terbesar sebuah gagasan bukan hanya pada kebenaran pemikirannya, tetapi pada kemampuannya berubah dari pemikiran menjadi kemauan politik, dari kemauan politik menjadi kebijakan, dan dari kebijakan menjadi kenyataan yang dirasakan oleh rakyat," katanya.
Atas dasar itu, Hendropriyono menilai buku Menata Ulang Reformasi karya Kiki Syahnakri relevan untuk menjadi bahan perdebatan mengenai arah reformasi dan kehidupan berbangsa ke depan.***