nasional

Muktamar NU ke-35: Mengapa Buya Kiai Said Aqil Siradj, Figur Paling Ideal untuk Rais Aam NU?

Senin, 20 Juli 2026 | 20:41 WIB
Cendhy Vicky - Peneliti INDEPTH

Lembut dan Santun

Dalam tradisi dakwah, ulama cum intelektual ini lebih memilih pendekatan dengan gaya persuasif, edukatif, dialogis dibandingkan pendekatan konfrontatif. Hal ini menjadi penting jika melihat konteks situasi beberapa tahun silam umat Islam Indonesia yang sangat “haus” dengan gaya beragama dan pengajian yang sarat dengan emosi, perasaan yang membara dan dakwah dengan suara yang melengking. Itulah yang membuat umat menjadi kurang rileks dalam beragama. Beragama saat itu, menjadi suatu sikap politis yang sangat kental.

Itulah yang membedakan dengan Kiai Said. Beliau sering menegaskan bahwa dakwah Rasulullah dibangun pada tiga unsur utama. Pertama hikmah (kebijaksanaan atau kearifan), mau'izhah hasanah (nasihat yang baik), mujadalah billati hiya ahsan (Artinya berdialog atau berdiskusi dengan cara yang paling baik).

Bagi pribadi yang cukup sering mengikuti pengajiannya di Ciganjur, penting untuk digarisbawahi adalah, bahkan ketika menyindir suatu figur atau person, atau situasi tertentu, yang dapat berkonotasi negatif ke pihak tertentu, Buya sering kali menggunakan kata atau kalimat kiasan. Supaya pada jamaah tidak langsung mengetahui siapa orang atau konteks yang ia maksud. Kisah ini kiranya dapat diverifikasi oleh nahdliyin yang belum pernah merasakan hikmah pengajian itu. Sungguh tinggkat keadabaan yang luar biasa.

Selain itu pendekatan tersebut tercermin dalam ceramah-ceramahnya yang lebih banyak menjelaskan argumentasi ilmiah daripada menyerang pihak lain secara personal. Tasawuf menurut Said Aqil menjadi basis pembentukan akhlak sosial dan toleransi. Gagasan ini tampak dalam tulisannya mengenai tasawuf sebagai fondasi tasamuh (toleransi).

Komunikasi dakwah yang Kiai Said Aqil bangun tentu dengan suasana penuh empati, penghargaan, dan penerimaan. Jika kita mendengar pengajian-pengajiannya. Maka kita sangat merasakan pengaruh pemikiran Gus Dur yang kental dalam landscape kemanusiaan, kebangsaan dan keagamaan Kiai Said Aqil. Dapat dikatakan bahwa Gus Dur dan Kiai Said adalah figur dua era dengan satu leksikon pengetahuan yang sama.

            Nilai tersebut sangat sesuai dengan model dakwah Kiai Said Aqil yang mengedepankan pendekatan humanis. Nilai humanis adalah jenis komunikasi yang menurut Carl Rogers—Person Centered—dalam On Becoming a Person (1961) bahwa komunikasi paling efektif efektif dibangun melalui: empati, penghargaan, dan penerimaan.

Salah satu tokoh yang berpotensi bergabung dalam Timnas AMIN adalah mantan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj. (Foto dok/Rmol.id)

Ulama untuk Jam’iyah

Kiai Said Aqil adalah figur yang memandang bahwa ulama bukan hanya penjaga ilmu agama, tetapi juga penggerak organisasi, pemberdayaan masyarakat, dan penjaga keutuhan bangsa. Selama memimpin PBNU, beliau mengembangkan banyak sekali program dan wacana yang sungguh bermanfaat. Diantaranya penguatan Aswaja, Islam Nusantara, moderasi beragama, penguatan pesantren, dan diplomasi internasional NU.

Beliau juga menempatkan NU sebagai jam'iyah diniyyah ijtima'iyyah (organisasi keagamaan dan kemasyarakatan) yang memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan sosial, kebangsaan, dan kemanusiaan. Dalam perspektif Said Aqil, ulama harus hadir di tengah masyarakat sebagai pembimbing, pelayan umat, dan perekat bangsa. Pandangan ini konsisten dengan pemikirannya tentang pluralisme, aswaja, dan Islam Nusantara.

Sejalan dengan pemikiran Talcott Parsons tentang structural functionalism (The Social System-1951). Parsons menjelaskan bahwa setiap institusi sosial memiliki fungsi menjaga integrasi masyarakat. Sebagai pemimpin organisasi keagamaan, Said Aqil menjalankan fungsi integratif tersebut melalui NU sebagai wadah pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, dan penguatan persatuan bangsa.

Sebagai salah satu contoh nyatanya adalah, bahwa Kiai Said pernah membuat ucapan yang menohok, untuk mengajak rakyat menolak membayar pajak pada 2012. Hal ini dikarenakan banyak sekali kasus korupsi yang merajarela. Kurang lebih beliau mengatakan “jika uang pajak dikumpulkan hanya untuk dikorupsi, lebih baik rakyat tolak membayar pajak.”

Itulah yang dimaksud bahwa ulama untuk jam’iyah. Bukan sebaliknya.

Penutup, setelah uraian mengenai tema atau poin yang penulis bedah pada figur Buya Kiai Said, alangkah baiknya silakan para pembaca bandingan dengan figur yang lain. Apakah setara? Sebanding? Hemat penulis kiranya tidak ada karena bagaimanapun kapasitas dan kapabilitas figur Kiai Said, terletak bukan pada pangkat atau jabatan yang bersifat politik.

Halaman:

Tags

Terkini