nasional

Muktamar NU ke-35: Mengapa Buya Kiai Said Aqil Siradj, Figur Paling Ideal untuk Rais Aam NU?

Senin, 20 Juli 2026 | 20:41 WIB
Cendhy Vicky - Peneliti INDEPTH

Oleh Cendhy Vicky

Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) dan Alumni UIN Syarif Hidayatullah 

Jelang perhelatan akbar muktamar organisasi Islam terbesar dunia Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-30 Agustus 2026, konstelasi pemilihan semakin menarik dan sengit. Pada tingkat Tanfidziyah atau pelaksana keputusan organisasi dalam hal ini adalah ketua umum. Banyak figur-figur baru yang muncul.

Sebaliknya pada tingkat Rais Syariah, khususnya Rais Aam, tidak banyak nama yang telah muncul sejak awal hingga saat ini. Tetapi ada satu nama yang membuat penulis tidak perlu tidak ragu untuk yakin memilih figur yang tepat untuk posisi tersebut. Yakni Buya Kiai Said Aqil Siradj. Figur Kiai Said Aqil memiliki momentum yang pas dengan portofolio yang sangat matang dan segudang pengalaman. Tentu juga dengan alasan adab dan menghormati figur panutan, jam’iyah, sepuh, dan guru bangsa lainnya, penulis tidak akan membahas atau lebih jauh mengkomparasi figur-figur terkait. Semoga pembaca dapat mengerti.

Para jamaah hadiri Halal Bihalal Masjid Birru Al Furqon bersama Kyai Said Aqil Sirodj.

Ditengah kompeksitas permasalahan NU yang seabrek, baik yang bersifat administratif, ekonomi, politik hingga etik, kiranya tidak berlebihan jika penulis mengatakan ini adalah era “paling gelap” NU sepanjang sejarah. Pun banyak sekali nahdliyin dengan lintas latar belakang (baik aktivis, peneliti, akademisi, hingga kiai sepuh) mengatakan hal senada. Dan yang paling membuat miris adalah sengkarut masalah ini terjadi pada masa hari ulang tahun (harlah) NU persis satu abad. Astaghfirullah

 Sebagai nahdliyin yang lahir dan tumbuh dalam dialektika organisasi-organisasi dengan semangat ahlussunnah wal jama’ah (aswaja), tentu kita harus berkomitmen untuk menutup buku polemik ini dan bangkit pada era yang baru. Masa lalu kelam harus menjadi pukulan telak internal, agar situasi semacam ini tidak boleh terulang. Tentu saya kira semua orang memiliki perasaan dan pikiran yang sama.

Maka dari itu mendukung dan memilih secara personal adalah salah satu langkah kecil nan berarti untuk berharap pada yang terbaik. Jelas, karena pemilik suara ‘real’ nantinya pada gelanggang muktamar di Tambakberas adalah para cabang NU. Namun bukankah seribu langkah, selalu dimulai pada langkah pertama? Siapapun tentu bisa berharap dan berdoa yang terbaik.

KH Said Aqil saat menyampaikan pandangan bahwa konsesi tambang memicu polemik. (Instagram.com @saidaqilsiroj53)

Kedalaman Ilmu dan Keluasan Sikap

Figur yang akrab disapa dengan Buya Said Aqil Siradj ini dikenal sebagai ulama yang memiliki basis keilmuan klasik (turats) yang sangat kuat sekaligus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern. Pendidikan beliau di Pesantren Kempek, kemudian melanjutkan studi hingga doktoral di Universitas Umm al-Qura Makkah, membentuk karakter intelektual yang memadukan fikih, ushul fikih, kalam, tasawuf, filsafat Islam, dan sejarah peradaban Islam.

Dalam berbagai karya dan ceramahnya, pengasuh pesantren luhur At Tsaqofah Jagakarsa-Jakarta Selatan ini, menegaskan bahwa ahlussunnah wal jamaah bukan sekadar mazhab fikih, melainkan manhaj al-fikr (metodologi berpikir) yang mengedepankan: Pertama tawassuth (berarti bersikap moderat. Seseorang menghindari sikap yang berlebihan atau ekstrem). Kedua tawazun, yang berarti keseimbangan. Nilai ini mengajarkan untuk menjaga keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan, misalnya antara hak dan kewajiban, kepentingan pribadi dan masyarakat, serta urusan dunia dan akhirat.

Ketiga tasamuh, berarti toleransi. Sikap menghargai dan menghormati perbedaan pendapat, keyakinan, budaya, atau kebiasaan orang lain tanpa harus meninggalkan prinsip yang diyakini. Dan keempat i'tidal (berarti adil dan lurus atau tegak pada kebenaran. Nilai ini menekankan sikap berlaku adil, proporsional, tidak memihak secara tidak semestinya).

Pandangan tersebut tampak jelas dalam bukunya Ahlussunnah wal Jama'ah dalam Lintas Sejarah (1997), yang menjelaskan bahwa Aswaja merupakan metodologi berpikir yang moderat dan adaptif terhadap perubahan zaman. Pemikiran ini juga menjadi fondasi gagasan Islam Nusantara yang menurut Said Aqil bukan agama baru, melainkan cara keberislaman yang mampu berdialog dengan budaya lokal tanpa mengubah akidah maupun syariat.

Halaman:

Tags

Terkini