“Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?” tulis Atalia melalui unggahan akun Instagramnya @ataliapr, dikutip pada Kamis, 2 Juli 2026.
Atalia juga mempertanyakan makna lagu, dengan lirik yang dimaknai bisa merendahkan perempuan tersebut.
“Jujur saya tidak habis pikir, se-positif apapun saya memaknai lagu ini. Saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan,” tukasnya.***