Warga lainnya menceritakan kengerian saat mendayung sampan untuk mencapai Takengon.
"Ibu-ibu udah duluan kami bawa ke sana naik kapal, naik boat. Bapak-bapaknya tinggal di sini karena nggak muat, terus datang longsor dari kiri kanan, terpaksa dayung perahu dari sini sampai ke Takengon," ucap warga lainnya.
"Dari jam 12 malam sampai jam 4 subuh, itu kiri-kanan gunung-gunung kayak jatuh. Rasanya kayak gunung itu pecah," lanjutnya.
"Mungkin kalau malam datangnya, pasti kita korban," tambahnya.
Sampan yang digunakan saat itu cukup membawa 5 orang dengan satu dayung dan dalam kondisi hujan deras.
Selain momen penyelamatan yang penuh tantangan, perjuangan untuk mendapatkan bantuan pun tak mudah.
Kapal yang dimiliki hanya sampan dengan dayung manual membuat warga juga harus mendayung 4 jam untuk mendapatkan bantuan.
"Harus didayung, nggak ada boat. Harus mendayung 3 sampai 4 jam kalau mau beli minyak makan, telur," ucap relawan dalam video itu.
Baca Juga: 224 Desa di Aceh Belum Teraliri Listrik, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Kirim 1000 Unit Genset
Tetap Bertahan di Rumah yang Rusak
Saat ini, warga bertahan di rumah yang rusak pasca diterjang banjir dan longsor.
Dalam video tersebut terlihat seisi rumah telah dipenuhi dengan lumpur yang mengeras.
Warga yang kembali memilih untuk membersihkan rumah dan menempatinya dengan kondisi rusak di beberapa bagian.
"Tinggal tetap di sini kami. Pokoknya terserah sama Allah, kalau kemana pun kalau mau mati kan mati ya," tuturnya lirih.