Saat ini Timur Tengah merupakan wilayah yang sedang mengalami konflik berdarah pasca al-rabi’ al-‘arabiy, musim semi Arab, tumbangnya para pemimpin Arab, Sadan Husein di Irak, Hosni Mubarak di Mesir, Umar Khadafi di Libiya, konfrontasi oposisi bersenjata berperang melawan rezim Bassar Asad, muncul gerakan ISIS yang bersenjata dan menguasai sebagian perbatasan Suriyah dan Irak, konflik bersenjata di internal Yaman, konflik bersenjata dan perang Houtsi vs Arab Saudi, konflik bersenjata internal Sudan, konflik dan perang Israel-Palestina.
Intensitas konflik di Timur Tengah belum surut, bahkan bertambah kuat dan meluas. Alih-alih perang Israel vs Hamas-Palestina meredah, saat ini malahan bertambah parah dan meluas melibatkan Hizbullah di Lebanon dan Houtsi di Yaman.
Melipir ke Eropa Timur ada perang Rusia vs Ukraina. Semakin ke Asia, ada ‘perang dingin’ antara Korea Utara vs Korea Selatan dan negara tetangga lainnya yang berafiliasi ke USA; ‘perang dingin’ antara Tiongkok vs Taiwan; problem laut China Selatan; sengketa perbatasan antara Indonesia dan Malaysia, dll. Meski di Asia tak ada perang terbuka, akan tetapi kondisinya ada ketegangan di sana-sini, dan boleh dibilang seperti api dalam sekam, bom waktu.
Kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Perang dan konflik ada di mana-mana. Sehingga Indonesia saat ini memerlukan pemimpin yang memahami betul tentang pentingnya keamanan dan geopolitik serta mampu berkomunikasi dengan dunia internasional. Sebab, amanat UUD 45 dalam Alinea ke-4 menyatakan, “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaia abadi dan keadilan sosial”.
Hubungan Internasional Berbasis Persahabatan
Hubungan antar negara yang didambakan Prabowo adalah hubungan persahabatan, tanpa konflik dan perang. Poin-poin penting padangan Prabowo dalam pidatonya di panggung IISS Shangri-La Dialoge 2022, yang penting dikutip di sini, sebagai berikut: Pertama, bahwa karena negara-negara Asia Tenggara sebagian besar memiliki pengalaman dijajah, didominasi, diperbudak dan dieksploitasi maka dalam “mengelola persaingan geopolitik di kawasan Asia Tenggara, bahkan Asia..[]..membuat kami sangat sadar akan pentingnya kepemimpinan yang bijaksana dan bermaslahat.”
Kedua, relasi antar negara dalam lingkungan yang damai dan persahabatan serta komunikasi. Kata Prabowo, “kami berjuang untuk menciptakan lingkungan yang damai, lingkungan persahabatan. Kami memiliki perbedaan, kami memiliki persaingan klaim wilayah..[]..Namun pandangan kami adalah bahwa kami harus berjuang untuk kesepahaman, untuk komunikasi”.
Ketiga, mendukung tatanan internasional berbasis aturan dan sikap non-blok. Prabowo menyatakan bahwa, “Bagi Indonesia, sikap kami sangat jelas, kami menghormati semua kekuatan besar dan semua kekuatan yang membutuhkan ruang, hak mereka untuk dihormati. Kami mendukung tatanan internasional berbasis aturan. Karena kami yang paling terdampak oleh tatanan apa pun yang hanya mengandalkan kekuatan besar. Pengalaman kami dijajah, dieksploitasi, selalu ada di alam bawah sadar kami. Karena itu, Indonesia memilih untuk tidak memihak. Kami memilih untuk tidak terlibat dalam aliansi militer apa pun. Ini kadang-kadang terdengar sepeti kami gamang dalam membuat Keputusan. Tetapi tidak! Ini adalah keputusan yang sadar. Karena bagi kami menghormati kepentingan semua tetangga kami dan semua kekuatan besar di wilayah ini adalah hal yang penting. Dan kami telah berhasil mencapainya dengan saudara-saudara kami di ASEAN. Dan karena itulah yang juga ingin kami coba capai dalam situasi ini.”
Sejatinya non-blok sebagai prinsip dasar Indonesia adalah prinsip yang dijiwai oleh semangat persaudaraan dengan semua negara. Sedangkan sikap nge-blok, ikut blok Barat atau ikut blok Timur semangatnya adalah kontestasi, persaingan, dan permusuhan.