Dua Bulan Pascabanjir, Warga Samar Kilang Bener Meriah Bertahan Hidup dengan Antre Air di Hutan

photo author
Ragil Firdaus, Senayan Post
- Senin, 26 Januari 2026 | 13:17 WIB
Warga Samar Kilang, Syiah Utama di Bener Meriah yang masih kesulitan air bersih. (Instagram/keber_samar__kilang)
Warga Samar Kilang, Syiah Utama di Bener Meriah yang masih kesulitan air bersih. (Instagram/keber_samar__kilang)

SENAYANPOST - Kondisi sejumlah wilayah di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, masih belum bisa pulih usai banjir bandang disertai tanah longsor pada akhir November 2025. Salah satunya yang terjadi di Samar Kilang, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, saat warganya kini menghadapi permasalahan baru.

Air bersih untuk kegiatan sehari-hari warga Samar Kilang masih sulit untuk diakses. Kesulitan akses air bersih membuat warga Samar Kilang harus mencari hingga keluar desa. Hal serupa sempat terjadi ketika warga berbondong-bondong jalan kaki ke kampung Kem, Bener Meriah demi mendapatkan sembako dan BBM.

“60 hari yang lalu, cari minyak ke Kem. Sekarang cari air ke Keken. Kami butuh air bersih karena air bersih yang dulu sudah habis dibawa banjir dan longsor,” dikutip dari unggahan akun Instagram @keber_samar__kilangg pada Senin, (26/1/26).

Dalam video yang diunggah, tampak sejumlah warga membawa dirigen dan mengantre untuk mengisi air bersih. Pipa tersebut berasal dari sumur di gunung dan disambung dengan pipa, lokasinya berada di pinggir jalan raya yang sudah rusak karena banjir dan longsor.

Baca Juga: Imbas Banjir Bandang Guci: Pantai Larangan Tegal Kini Penuh Sampah Kayu dan Pipa Air

Menilik dari video lain, perekam membeberkan bahwa air tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti memasak dan mandi.

“Ini kondisi masyarakat Samar Kilang untuk mengambil air bersih untuk minum, mandi, dan memasak. Luar biasa ya,” ucapnya.

Tak hanya warga, relawan tenaga kesehatan (Nakes) juga turut mengaku sulit untuk mendapatkan air bersih.

“Air adalah sumber kehidupan, bayangkan ada pasien rawat gimana? Dokter relawan dan nakes berjuang mengambil air di tengah hutan,” dikutip dari keterangan dari unggahan akun yang sama.

Baca Juga: Lula Lahfah Meninggal, Polisi Tunggu Hasil Lab untuk Pastikan Sebab Kematian

Terlihat dari video, para nakes membawa beberapa dirigen dan bak menggunakan mobil Ambulans. Dua bulan pascabanjir, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Bener Meriah mencatat sebanyak 2.116 masyarakat masih mengungsi akibat banjir bandang dan tanah longsor.

Para pengungsi tersebar di lima kecamatan dari sepuluh kecamatan yang ada, yakni di Kecamatan Pintu Rime Gayo sebanyak 431 pengungsi, Timang Gajah 1.166 pengungsi, Gajah Putih 84 pengungsi, Wih Pesam 319 dan Mesidah 116 pengungsi.

Pembangunan hunian sementara (huntara) pun terus dilakukan dengan target bisa segera ditempati sebelum Ramadan. Lebih lanjut, ada sebanyak 914 huntara yang sedang dibangun di 35 titik di 10 kecamatan, yaitu yaitu Bandar, Bener Kelipah, Bukit, Gajah Putih, Mesidah, Permata, Pintu Rime Gayo, Syah Utam, Timang Gajah, dan Wih Pesam. *

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ragil Firdaus

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X