Jika dalam menyikapi perbedaan dengan umpatan dan serapah serta kata-kata sarkastik maka itu sejatinya telah keluar dari harakah wa tsaqafah an-Nahdliyyah (gerakan-kultur NU) yang mengutamakan kelembutan argumentasi dan dakwah bil hikmah. Agaknya kata-kata sarkastik dalam menyikapi perbedaan agak mirip dengan gerakan FPI. Termasuk kaum muda NU dari gawagis sampai awam yang ikut terpapar.
Saya terus menata hati dan husnuzhan (baik sangka) menyatakan bahwa kalau itu bukan pernyataan dari para kiyai, ulama dan masyayikh terhormat yang saleh dan sabar yang saban hari total waktunya hanya untuk mengaji, mengurus santri, dan menerima tamu atau santri yang mau konsultasi atau sekedar sowan ngalap berkah.
Para masyayikh, para kiyai dan ulama saya meyakini mereka tidak sempat menganalisa mendalam atau sama sekali tidak tertarik pada persoalan kubu-kubuan dalam konflik, melainkan hanya ingin semuanya baik-baik saja dan jika ada persoalan diselesaikan dengan baik, tidak dengan kata-kata sarkastik.