DPP Partai Golkar Gelar Bedah Buku, David Reeve Sebut Nilai Manunggaling Kawula Gusti Mengakar di Golkar

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Selasa, 9 Desember 2025 | 00:05 WIB

SENAYANPOST - Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Golongan Karya (Golkar) pada Senin 8 Desember 2025 menggelar bedah buku Golkar; Sejarah yang Hilang, disertasi sejarawan dan guru besar di New South Wales University yang juga Mantan Diplomat Australia Prof David Reeve. 

Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar Sarmudji dalam sambutannya meminta kepada kader-kader Partai Golkar untuk memperkuat pendalaman sejarah kelahiran dan perkembangan ideologi kekaryaan agar tidak mengalami disorientasi.

"Kita harus mengetahui kenapa Golkar lahir. Jangan sampai kita mengalami disorientasi dalam bergerak. Golkar lahir dari organisasi-organisasi fungsional non-politik sehingga mempengaruhi karakter teknokrasi dan merotokrasi di dalam tubuh Golkar. Yang diutamakan oleh Golkar adalah karya dan keahlian. Sejarahnya seperti itu," tegasnya.

Prof David Reeve dalam pemaparannya menceritakan awal mula kedatangannya ke Indonesia pada tahun 1969 sebagai diplomat muda bekerja di Kedubes Australia dengan tugas utama  mengamati, menganalisis dan menulis laporan tentang Indonesia, dan topik utama yang menonjol adalah pemilu pertama di Orde Baru tahun 1971.

"Selama Demokrasi Terpimpin tidak ada pemilu, dan agar Orde Baru diterima Dunia Internasional, maka harus menggelar Pemilu. Saya dapat bagian mengamati Golkar, kalangan pemuda dan Partai Katholik," jelasnya.

Prof David Reeve menjelaskan bahwa dirinya tertarik meneliti Golkar karena menang secara drastis dengan perolehan suara 62,8 persen pada Pemilu 1971, dan sudah ada banyak penelitian tentang partai-partai ideologis seperti Masyumi, Parmusi, PPP, PDI, PNI hingga PKI yang selalu memperdebatkan dasar ideologi negara.

"Saya mengira pendiri Golkar adalah Tentara. Saya lihat pencetus ide Golkar adalah Bung Karnoyang di tahun 1957 mulai meneriakkan, kuburkan partai politik. Jika parpol dikubur, maka penggantinya adalah golongan fungsional kemudian menjadi golongan karya," ungkapnya.

Hasil pendalamannya terhadap Golkar, didapati bahwa semangat anti-partai politik yang dianggap tidak cocok dengan karakter Bangsa Indonesia sudah mengemuka sejak dekade 1920-an dan 1930-an oleh Ki Hadjar Dewantara dan Prof Soepomo, di mana keduanya merupakan perumus konstitusi Undang Undang Dasar 1945. 

"Tahun 1920-1930 sudah ada kalangan pemuda yang tidak suka sistem partai tapi demokrasi yang terpimpin oleh satu partai. Ki Hajar Dewantoro sejak 1920-an anti sistem barat, sistem multi partai, dan sistem opisis, dianggap pemikiran luar tidak cocok dengan pemikiran Indonesia," imbuhnya.

Selain itu, konsep Golkar adalah perkumpulan dari berbagai golongan profesi dan kekaryaan dari seluruh elemen rakyat baik itu petani, guru, nelayan dan buruh, termasuk tentara. Oleh karena itu Golkar sangat dekat dan manunggal dengan rakyat, bukan ideologi-ideologi dari luar Indonesia.

"Nilai Manunggaling Kawula Gusti sangat mengakar di Golkar, dalam gagasan Ki Hajar Dewantoro dan Supomo," pungkasnya. (Muqoddas)

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

X