Oleh Dr KH As'ad Said Ali
Wakil Kepala Badan Inteljen Negara (BIN) 2001 - 2010
Periode 100 hari kabinet Presiden Prabowo Subianto memberikan optimisme terhadap masa depan Indonesia terutama kebijakan ekonominya. Misalnya kredit bagi pengusaha kecil menengah yang relatif rendah.
Kebijakan Presiden Prabowo Subianto sekarang ini mengingatkan saya terhadap kebijakan ayahandanya, Prof Soemitro Djojohadikoesoemo dan kakek , Margono Djojohadikoesoemo yang merupakan pendiri Bank Indonesia pada awal era kemerdekaan pasca proklamasi atas perintah dwi-tunggal Bung Karno dan Bung Hatta.
Karena masalah politik, Prof Soemitro Djojohadikoesoemo yang berbeda dengan Bung Karno karena isu PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia), bersama keluarganua, mengungsi ke Amerika Serikat dan kemudian pindah ke Malaya yang kemudian berubah menjadi Malaysia saat ini.
Di Malaysia, Prof Soemitro Djojohadikoesoemo dipercaya sebagai menteri perekonomian dan berhasil membangun basis ekonomi Malaysia, sehingga menjadi negara yang lebih dahulu makmur di banding dengan Indonesia. Basis kebijakan ekonominya adalah setiap petani mendapat bagian 5 (lima) hektar tanah untuk ditanami kelapa sawit dan sebagiannya karet. Keduanya komoditas yang sangat dibutuhkan pada saat itu.
Setelah Prof Soemitro Djojohadikoesoemo kembali ke Indonesia, Presiden Soeharto sebagai penerus Presiden Soekarno mempercayai Prof Soemitro Djojohadikoesoemo untuk membangun kembali basis ekonomi nasional. Karena jumlah penduduk Indonesia yang jauh lebih besar dibanding dengan Malaysia, setiap petani hanya kebagian 2 (dua) hektar tanah untuk ditanami produk eksport, sehingga kemakmuran rakyat masih relatif tertinggal dibanding dengan Malaysia.
Disamping itu kebijakan Presiden Soekarno untuk berkonfrontasi dengan Malaysia yang disebut Ganyang Malaysia, bukan hanya menimbulkan instabilitas politik dan keamanan, tetapi juga Indonesia menjadi terisolasi secara ekonomi sejak tahun 1965 hingga 1970 oleh negara-negara sekitarnya, khususnya Asia Tenggara yang saat ini merupakan anggota-anggota ASEAN.
Ketika sang putera pertama Prof Sumitro Djojohadikoesoemo mendapat kepercayaan dari rakyat untuk menjadi pemimpin Indonesia, kebijakan ekonomi beliau mengikuti kebijakan Sang Ayah dengan memberikan perhatian besar terhadap perekonomian rakyat. Sebagai contoh bunga kredit pengusaha golongan menengah dan golongan kecil ke bawah 14 persen, termasuk harga gas untuk rakyat yang lebih mudah dijangkau.
Perubahan kebijakan masalah gas misalnya menunjukkan besarnya perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap kebutuhan rakyat dengan menetapkan harga rendah yang terjangkau oleh rakyat kecil. Demikian juga Presiden Prabowo Subianto menurunkan bunga pinjaman untuk rakyat kecil.
Rakyat menyambut baik segenap kebijakan ekonomi dan hal itu menghembuskan angin politik positif sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.