Optimisme Rakyat di 100 Hari Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Sabtu, 15 Februari 2025 | 17:40 WIB
Presiden RI Prabowo Subianto menyempatkan diri berfoto dengan warga Kupang saat kunjungan ke Nusa Tenggara Timur. (BPMI Setpres/Kris)
Presiden RI Prabowo Subianto menyempatkan diri berfoto dengan warga Kupang saat kunjungan ke Nusa Tenggara Timur. (BPMI Setpres/Kris)

Oleh Dr KH As'ad Said Ali

Wakil Kepala Badan Inteljen Negara (BIN) 2001 - 2010

Periode 100 hari kabinet Presiden Prabowo Subianto memberikan optimisme terhadap masa depan Indonesia terutama kebijakan ekonominya. Misalnya kredit bagi pengusaha kecil menengah yang relatif rendah.

Kebijakan Presiden Prabowo Subianto sekarang ini mengingatkan saya terhadap  kebijakan ayahandanya, Prof Soemitro Djojohadikoesoemo dan kakek , Margono Djojohadikoesoemo yang merupakan pendiri Bank Indonesia pada awal  era kemerdekaan pasca proklamasi atas perintah dwi-tunggal Bung Karno dan Bung Hatta.

Karena masalah politik, Prof Soemitro Djojohadikoesoemo yang berbeda dengan Bung Karno karena isu PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia), bersama keluarganua, mengungsi ke Amerika Serikat dan kemudian pindah ke Malaya yang kemudian berubah menjadi Malaysia saat ini.

Di Malaysia, Prof Soemitro Djojohadikoesoemo dipercaya sebagai menteri perekonomian dan berhasil membangun basis ekonomi Malaysia, sehingga menjadi negara yang  lebih dahulu makmur di banding  dengan Indonesia. Basis kebijakan ekonominya adalah setiap petani mendapat bagian 5 (lima) hektar tanah untuk ditanami kelapa sawit dan sebagiannya karet. Keduanya komoditas yang sangat dibutuhkan pada saat itu.

Setelah Prof Soemitro Djojohadikoesoemo kembali ke Indonesia, Presiden Soeharto sebagai penerus Presiden Soekarno mempercayai Prof Soemitro Djojohadikoesoemo untuk membangun kembali basis ekonomi nasional. Karena jumlah penduduk Indonesia yang jauh lebih besar dibanding dengan Malaysia, setiap petani hanya kebagian 2 (dua) hektar tanah untuk ditanami produk eksport, sehingga kemakmuran rakyat masih relatif  tertinggal dibanding dengan Malaysia.

Disamping itu kebijakan Presiden Soekarno untuk berkonfrontasi dengan Malaysia yang disebut Ganyang Malaysia, bukan hanya menimbulkan instabilitas politik dan keamanan, tetapi juga Indonesia menjadi terisolasi secara ekonomi sejak tahun 1965 hingga 1970 oleh negara-negara sekitarnya, khususnya Asia Tenggara yang saat ini merupakan anggota-anggota ASEAN.

Ketika sang putera pertama Prof Sumitro Djojohadikoesoemo mendapat kepercayaan dari rakyat untuk menjadi pemimpin Indonesia, kebijakan ekonomi beliau mengikuti kebijakan Sang Ayah dengan memberikan perhatian besar terhadap perekonomian rakyat. Sebagai contoh bunga kredit pengusaha golongan menengah dan golongan kecil  ke bawah 14 persen, termasuk harga gas untuk rakyat yang lebih mudah dijangkau.

Perubahan kebijakan  masalah gas misalnya menunjukkan besarnya perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap  kebutuhan rakyat dengan menetapkan harga rendah yang terjangkau oleh rakyat kecil. Demikian juga Presiden Prabowo Subianto menurunkan bunga pinjaman untuk rakyat kecil.

Rakyat menyambut baik segenap kebijakan ekonomi dan hal itu menghembuskan angin politik positif sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

X