Dewan Da’wah Solo Raya Gelar Kajian Ilmiah, Bedah Doktrin LDII dan Tantangan Paradigma Baru

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Minggu, 17 November 2024 | 16:19 WIB
Dewan Dawah Solo Raya bersama MUI gelar kajian ilmiah bedah doktrin LDII dan tantangan paradigma baru. (Instagram.com/@dewandawahsoloraya)
Dewan Dawah Solo Raya bersama MUI gelar kajian ilmiah bedah doktrin LDII dan tantangan paradigma baru. (Instagram.com/@dewandawahsoloraya)
 
SENAYANPOST - Dewan Da’wah Solo Raya bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surakarta dan UIN Raden Mas Said Surakarta menggelar kajian ilmiah bertajuk "Menjaga Aqidah Umat Melalui Penguatan Islam Wasathiyah".
 
Acara ini sekaligus menjadi forum bedah buku Pembinaan LDII Menuju Paradigma Baru, hasil penelitian Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pelatihan (KP3) MUI yang mengupas keberadaan, doktrin LDII, serta praktiknya yang dinilai merusak ukhuwah Islamiyah.

Acara yang berlangsung di Ruang Pertemuan Fakultas Ushuluddin UIN Raden Mas Said ini menghadirkan pembicara-pembicara ahli, di antaranya: KH. Ahmad Zubaidi, Ketua Bidang Da’wah MUI Pusat; Assc. Prof. Drs. Firdaus Syam, MA., Ph.D., anggota KP3 MUI Pusat; Dr. Ali M. Abdillah, M.A., anggota KP3 MUI Pusat; Dr. Kholilurrohman, M.Si., Dekan Fakultas Ushuluddin dan Da’wah UIN Raden Mas Said.
 
 
Acara dipandu oleh Dr. Isa Anshory, MPI, Wakil Ketua 2 Dewan Da’wah Solo Raya, dengan Ust. Adriansyah Rosyad, MPI, Wakil Ketua 1 Dewan Da’wah Solo Raya, sebagai pembawa acara.
 
Kajian ini dihadiri tokoh-tokoh Islam Solo Raya, akademisi, hingga mantan anggota LDII, dengan buku Pembinaan LDII Menuju Paradigma Baru diberikan kepada seluruh peserta sebagai referensi.

Sorotan Utama: Doktrin LDII yang Mengancam Ukhuwah
 
Dalam sesi pembahasan, Dr. Kholilurrohman mengingatkan pentingnya membangun harmoni tanpa monopoli kebenaran oleh satu kelompok tertentu.
 
"Islam melarang kita mengklaim kebenaran mutlak untuk kelompok sendiri. Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa mengucapkan la ilaha illallah, ia akan masuk surga’. Ini menjadi pengingat untuk berhati-hati dalam memvonis sesama muslim," tegasnya.
 
Baca Juga: Pembantaian Makin Parah di Gaza Utara, Israel Penjajah Usir 100 Ribu Rakyat Palestina dalam 24 Jam Terakhir

Sementara itu, Assc. Prof. Drs. Firdaus Syam memaparkan metode penelitian KP3 MUI sejak 2018.
 
Penelitian ini dilakukan secara mendalam, termasuk wawancara langsung dengan pimpinan LDII.
 
"Temuan kami mengungkap delapan pola aliran sesat, mulai dari ketaatan mutlak (sami’na wa atha’na), eksklusivitas kelompok, hingga ancaman terhadap anggota yang keluar. Ini tidak hanya merusak ukhuwah Islamiyah, tapi juga ukhuwah wathaniyah dan basariyah," jelasnya.
 
Paradigma Baru LDII: Retorika atau Realita?
 
LDII mengklaim telah meninggalkan doktrin lama dan beralih ke paradigma baru. Namun, temuan lapangan KP3 MUI menunjukkan sebaliknya.
 
Dr. Ali M. Abdillah menyoroti masih kuatnya praktik lama LDII yang menganggap kelompok di luar mereka sebagai kafir.
 
 
"Mereka mengaku tak lagi mewajibkan bai’at kepada imam, tetapi kenyataan di lapangan membuktikan doktrin takfiri tetap hidup. Bahkan, fatwa agama dikeluarkan oleh imam tanpa latar belakang pendidikan agama yang memadai, menciptakan kesalahan besar dalam ajaran Islam," ungkapnya.

KH. Ahmad Zubaidi menambahkan bahwa upaya pembinaan MUI terhadap LDII masih menemui tantangan besar.
 
"Kami sudah mencoba pembinaan struktural, termasuk mengunjungi Pondok Pesantren Wali Barokah di Kediri. Awalnya kami diterima dengan baik, tetapi kenyataan di akar rumput menunjukkan perubahan hanya bersifat seremonial, tanpa implementasi yang nyata," jelasnya.

Langkah Ke Depan: Peran MUI dan Masyarakat
 
MUI menetapkan program pembinaan LDII hingga Desember 2024, dengan terus mengumpulkan data lapangan untuk menentukan langkah selanjutnya.
 
"Kami berharap masyarakat, terutama mantan anggota LDII, memberikan informasi dan bukti penyimpangan. Semua ini akan menjadi dasar rekomendasi bagi MUI, termasuk kemungkinan penerbitan fatwa resmi," ungkap Prof. Firdaus Syam.
 
Baca Juga: Jelang Pilkada Jakarta 2024, Pramono Anung dan Rano Karno Sambangi Anies Baswedan, Ada Apa?

Namun, MUI menegaskan bahwa dakwah kepada LDII tetap dilakukan dengan hikmah dan pendekatan kultural.
 
"Mereka adalah saudara kita yang membutuhkan bimbingan. Tugas kita adalah menjaga aqidah umat sekaligus merangkul mereka dengan kasih sayang," kata KH. Zubaidi.

Membekali Umat dengan Literasi Aqidah
 
Buku Pembinaan LDII Menuju Paradigma Baru menjadi hasil nyata dari penelitian KP3 MUI. Buku ini dirancang sebagai panduan bagi umat Islam untuk memahami bahaya doktrin LDII sekaligus memperkuat Islam Wasathiyah di Indonesia.

Acara ini menjadi bagian dari roadshow nasional untuk menyosialisasikan bahaya aliran sesat seperti LDII, sehingga masyarakat dapat lebih waspada dan memahami pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah.***
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X