SENAYANPOST - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dikabarkan telah menyetujui untuk membuka penyeberangan Rafah, Mesir belum lama ini.
Hal ini disampaikan lewat akun X resmi Kantor Perdana Menteri Israel menyusul gencatan senjata tahap kedua yang sedang berlangsung di Jalur Gaza usai pembicaraan dengan utusan Amerika Serikat (AS) di Yerusalem.
Pembukaan penyeberangan Rafah tersebut merupakan bagian dari 20 poin rencana yang diusulkan Presiden AS Donald Trump.
"Sebagai bagian dari rencana 20 poin Presiden Trump, Israel telah menyetujui pembukaan kembali terbatas Penyeberangan Rafah hanya untuk lalu lintas pejalan kaki, dengan tunduk pada mekanisme inspeksi penuh Israel," kata kantor Netanyahu pada 25 Januari 2026, dikutip SenayanPost.com dari Middle East Eye.
Baca Juga: Dubes Iran Bongkar Infiltrasi Amerika dan Israel dalam Demonstrasi
Pembukaan kembali penyeberangan tersebut dikondisikan pada pengembalian semua tawanan yang masih hidup dan upaya 100 persen oleh Hamas untuk menemukan dan mengembalikan semua tawanan yang telah meninggal, kata kantor tersebut.
Pembukaan kembali penyeberangan Rafah, yang termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Presiden Donald Trump pada 10 Oktober.
Juga telah lama dituntut oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi kemanusiaan.
Israel sebelumnya mengatakan akan membuka kembali perbatasan dengan Mesir untuk lalu lintas orang hanya setelah operasi pencarian jenazah Ran Gvili, tawanan Israel terakhir yang tersisa, di wilayah tersebut selesai.
Menurut media Israel, utusan Trump, Jared Kushner dan Steve Witkoff, mendesak Netanyahu untuk membuka kembali Rafah tanpa menunggu kembalinya jenazah Gvili.
Perbatasan Rafah merupakan titik masuk penting untuk bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza dan salah satu rute keluar utama bagi warga Palestina.
Gaza telah berada di bawah blokade Israel sejak tahun 2007.***