internasional

Menilik Wawancara Lawas Bashar Al Assad Tahun 2016: Bantah Disebut Penjahat Perang, Salahkan Barat atas Eksodus Rakyat Suriah

Sabtu, 25 Oktober 2025 | 09:01 WIB
Saat mantan presiden Suriah Bashar Al Assad menolak dirinya disebut penjahat perang dan tuding Barat atas eksodus rakyatnya. (Tangkap layar YouTube SWI swissinfo.ch - English)

Bagian paling kontroversial muncul saat pewawancara menyatakan bahwa rakyat Suriah melarikan diri bukan hanya karena ISIS, tetapi juga karena Assad sendiri.

Assad menolak bertanggung jawab dan balik menuduh teroris serta sanksi Barat sebagai penyebab utama eksodus jutaan warga Suriah.

Baca Juga: Suriah Bakal Gelar Pemilu Pemilihan Anggota Parlemen Pasca Jatuhnya Bashar Al Assad, Aktivis Demokrasi Khawatirkan soal Ini

"Saya tidak meminta orang meninggalkan Suriah. Orang melarikan diri karena aksi teroris yang membunuh warga, menghancurkan sekolah dan infrastruktur, dan karena embargo Barat yang melumpuhkan kehidupan mereka," ujarnya.

Assad juga menuduh Barat melakukan intervensi terselubung melalui dukungan senjata dan perlindungan politik kepada kelompok oposisi bersenjata.

Ia menegaskan bahwa yang disebut 'oposisi' harus dibedakan dari 'teroris'.

"Anda tidak bisa menyebut orang yang memegang senjata dan membunuh warga sipil sebagai oposisi. Itu teroris. Kami punya oposisi nyata di dalam negeri, bukan yang dibuat di Turki atau Prancis," katanya.

Kini, dengan berakhirnya kekuasaan Assad pada Desember 2024, wawancara ini kembali menjadi rujukan analisis di berbagai forum internasional.

Baca Juga: Lebih dari 1000 Orang Tewas, Ahmad Al Sharaa Janji Atasi Kekerasan Mematikan di Suriah, Simpatisan Bashar Al Assad Diduga Terlibat

Banyak pengamat melihat isi wawancara tersebut sebagai gambaran bagaimana narasi politik digunakan oleh pemimpin negara untuk mempertahankan legitimasi di tengah tekanan global, sekaligus mencerminkan dinamika perang informasi pada periode tersebut.***

 

 

Halaman:

Tags

Terkini