Bagian paling kontroversial muncul saat pewawancara menyatakan bahwa rakyat Suriah melarikan diri bukan hanya karena ISIS, tetapi juga karena Assad sendiri.
Assad menolak bertanggung jawab dan balik menuduh teroris serta sanksi Barat sebagai penyebab utama eksodus jutaan warga Suriah.
"Saya tidak meminta orang meninggalkan Suriah. Orang melarikan diri karena aksi teroris yang membunuh warga, menghancurkan sekolah dan infrastruktur, dan karena embargo Barat yang melumpuhkan kehidupan mereka," ujarnya.
Assad juga menuduh Barat melakukan intervensi terselubung melalui dukungan senjata dan perlindungan politik kepada kelompok oposisi bersenjata.
Ia menegaskan bahwa yang disebut 'oposisi' harus dibedakan dari 'teroris'.
"Anda tidak bisa menyebut orang yang memegang senjata dan membunuh warga sipil sebagai oposisi. Itu teroris. Kami punya oposisi nyata di dalam negeri, bukan yang dibuat di Turki atau Prancis," katanya.
Kini, dengan berakhirnya kekuasaan Assad pada Desember 2024, wawancara ini kembali menjadi rujukan analisis di berbagai forum internasional.
Banyak pengamat melihat isi wawancara tersebut sebagai gambaran bagaimana narasi politik digunakan oleh pemimpin negara untuk mempertahankan legitimasi di tengah tekanan global, sekaligus mencerminkan dinamika perang informasi pada periode tersebut.***