Sharaa tidak menutup-nutupi tantangan Suriah, lebih dari satu juta orang tewas di kuburan massal, 12 juta orang mengungsi, ekonomi yang terpuruk, sanksi yang masih berlaku, dan milisi saingan yang bercokol di utara.
"Ini bukan dongeng. Ini adalah pemulihan. Dan pemulihan itu menyakitkan," ujarnya.
Ia mengakui bahwa kekuatan asing — Tiongkok, Rusia, Iran, Turki, UEA, Qatar, dan AS — akan terus memengaruhi jalan Suriah.
Namun, ia menegaskan bahwa kedaulatan Suriah dimulai dengan konsensus Suriah.
"Kami tidak akan menjadi pion. Kami juga tidak akan menjadi benteng. Kami akan menjadi negara yang memerintah dengan legitimasi, bukan sekadar kendali. Kami ingin AS bermitra dengan kami — dalam pemerintahan, dalam antikorupsi, dalam membangun lembaga yang didasarkan pada kejujuran dan integritas," tegas Ahmad Al Sharaa.***