SENAYANPOST - Setelah jatuhnya Presiden Suriah Bashar Al Assad, Israel menganeksasi lebih banyak lagi wilayah negara itu, termasuk Gunung Hermon di Dataran Tinggi Golan.
Tidak hanya itu, Israel juga berhasil menguasai sebagian besar sumber air di Quneitra.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mendorong agar wilayah yang baru saja dianeksasi itu segera ditempati para pemukim ilegal.
Sebagaimana dilansir SenayanPost.com dari The Cradle pada 16 Desember 2024, pasukan Israel telah melakukan pencarian intensif dan penghancuran sistematis di beberapa wilayah yang diduduki, termasuk pipa-pipa air minum di sejumlah desa, dengan tujuan memaksa penduduk untuk mengungsi.
Baca Juga: Bashar Al Assad Buka Suara Usai Damaskus Jatuh ke Tangan HTS: Saya Tidak Pernah Khianati Suriah
Pasukan Israel menduduki dua desa baru di dekat Dataran Tinggi Golan pada hari Minggu, Mazraat Beit Jinn dan Maghar al-Mir, di pedesaan Damaskus.
Pada hari Jumat, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz memerintahkan pasukan Israel untuk bersiap tinggal selama musim dingin di Gunung Hermon yang tertutup salju setinggi 2.800 meter, lokasi strategis yang menghadap ke Damaskus.
Menurut Reuters, pernyataan Katz merupakan tanda bahwa "kehadiran Israel di Suriah akan terus berlanjut untuk waktu yang lama".
"Karena apa yang terjadi di Suriah, ada kepentingan keamanan yang sangat besar bagi kami untuk mempertahankan puncak Gunung Hermon," kata pernyataan dari kantor Katz.
Baca Juga: Sebelum Digulingkan HTS, Bashar Al Assad Sebut Turki Dukung Oposisi Bersenjata
Israel memandang puncak gunung tersebut sebagai aset strategis untuk observasi dan pertahanan.
"Ini adalah tempat tertinggi di wilayah tersebut, menghadap ke Lebanon, Suriah, Israel," kata Efraim Inbar, direktur Institut Strategi dan Keamanan Yerusalem (JISS).
"Ini sangat penting secara strategis. Tidak ada yang dapat menggantikan gunung."
Pasukan Israel berencana untuk memasang fasilitas SIGINT (pengupasan dan penyadapan SIGINT) yang luas di sana.