internasional

Satu Tahun Genosida di Gaza, Pengamat: Sikap Agresif Israel Bisa Jadi Kehancurannya

Jumat, 4 Oktober 2024 | 16:17 WIB
Pengamat Timur Tengah, Mouin Rabbani mengatakan bahwa sikap agresif Israel setelah satu tahun genosida di Gaza bisa bawa kehancuran. (X.com/@UNRWA)

SENAYANPOST - Nyaris satu tahun genosida di Gaza, sikap Israel di Timur Tengah jadi sorotan dunia.

Mouin Rabbani yang merupakan pengamat Timur Tengah mengatakan bahwa agresi Israel ke wilayah Palestina di Gaza dan saat ini Tepi Barat justru akan membawa kepada kehancurannya.

Semua ini berawal dari Operasi Thufaan Al Aqsa atau Banjir Al Aqsa dimulai 7 Oktober 2023.

Operasi tersebut merupakan respons rakyat Palestina terhadap penjajahan Israel yang telah berlangsung selama 76 tahun.

Baca Juga: Bagaimana Israel Respons Serangan Iran? Ini Kata Pengamat

"Respons awal Israel adalah melancarkan kampanye genosida terhadap warga Palestina di Jalur Gaza. Didorong oleh balas dendam dan haus darah, kampanye tersebut dirancang tidak hanya untuk membunuh dan menghancurkan dalam skala besar, tetapi juga untuk membuat Jalur Gaza tidak layak huni," kata Mouin Rabbani pada 3 Oktober 2024, dikutip SenayanPost.com dari Middle East Eye.

Menurut Rabbani, genosida yang dilakukan Israel merupakan sebuah tindakan untuk membangun kembali citra negara Zionis tersebut setelah pemukiman ilegalnya dijebol para pejuang Perlawanan Palestina.

"Genosida adalah harga yang bersedia dibayar oleh sponsor barat Israel agar Israel menjadikan Jalur Gaza sebagai contoh dan, dengan demikian, membangun kembali kekuatan pencegahannya yang telah hancur," lanjutnya.

Tidak hanya itu, Israel juga 'mengikat' sekutu Baratnya seperti Amerika Serikat agar tragedi kemanusiaan ini terus berlanjut.

Baca Juga: Charta Politika Rilis Survei Elektabilitas, Pasangan RIDO Ungguli Pramono-Rano Karno

"Untuk memastikan Israel dapat mengamuk di Jalur Gaza tanpa hukuman dan lolos dari segala pertanggungjawaban atas tindakannya, para sponsor dan sekutu Israel dari Barat, yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dengan sukarela mencabik-cabik buku aturan hukum internasional dan norma serta nilai yang mendasarinya," ungkapnya.

Dalam aksi pembantaiannya, Israel tidak lagi menghormati hukum-hukum humaniter sebagaimana diatur dalam hukum internasional.

"Setiap Israel berturut-turut menghancurkan garis merah lainnya - pemboman dan penghancuran rumah sakit, sekolah, dan pusat pengungsian, mengubah perangkat komunikasi menjadi granat tangan tanpa pandang bulu, dan membunuh serta melukai ratusan orang untuk menyelamatkan empat tawanan - dibenarkan sebagai tindakan pembelaan diri yang sah," jelasnya.

Setelah satu tahun genosida di Gaza, dunia telah berubah menjadi tempat yang tidak aman akibat agresi Israel terhadap Palestina.

Halaman:

Tags

Terkini