Baca Juga: 14 Faksi Palestina Termasuk Hamas dan Fatah Tandatangani Deklarasi Beijing
"Saya mendesak rakyat kita untuk bersatu, tetap sabar, dan berdiri teguh melawan pendudukan Israel," katanya, menurut kantor berita Palestina Wafa.
Houthi Yaman juga mengecam pembunuhan itu, menyebutnya sebagai "kejahatan teroris dan pelanggaran hukum yang mencolok."
Haniyeh, yang sebelumnya menjadi salah satu penengah utama bagi para mediator yang berusaha menegosiasikan gencatan senjata di Gaza, telah tinggal di pengasingan di Qatar tetapi sering bepergian ke Iran.
Pembunuhannya dapat dianggap sebagai aib besar bagi Teheran dan berisiko membuat Republik Islam membalas dendam terhadap Israel.
Menurut New York Times, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengadakan pertemuan darurat di kediaman pemimpin tertinggi negara itu, sebuah acara langka yang disediakan untuk keadaan luar biasa.
Sumber-sumber Iran melaporkan bahwa komandan Pasukan Quds, yang mengawasi jaringan milisi yang bersekutu dengan Iran, juga akan hadir dalam pertemuan tersebut.
Sejak dimulainya perang Israel di Gaza, lebih dari 60 anggota keluarga Haniyeh telah tewas dalam serangan Israel, termasuk saudara perempuannya, tiga putranya, dan tiga cucu.
"Melalui darah para martir dan rasa sakit yang terluka, kita menciptakan harapan, kita menciptakan masa depan, kita menciptakan kemerdekaan dan kebebasan bagi rakyat dan negara kita," kata Ismail Haniyeh dalam pidatonya.***