SENAYANPOST - Delegasi Hamas diperkirakan tiba di Kairo, Mesir untuk membicarakan negosiasi gencatan senjata di Gaza pada 29 April 2024.
Diketahui, Hamas dan kelompok Perlawanan Palestina lainnya telah menerima tanggapan resmi penjajah Israel terkait negosiasi gencatan senjata di Gaza.
Disaat yang bersamaan, warga Gaza yang berada di Rafah terancam serangan darat penuh penjajah Israel.
Seorang pejabat Hamas yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa kelompok tersebut 'tidak memiliki masalah besar' dengan proposal terbaru tersebut.
"Suasananya positif kecuali ada hambatan baru dari Israel," kata pejabat itu pada 29 April 2024, dikutip SenayanPost.com dari The Cradle.
Baca Juga: 205 Hari Genosida di Gaza, Dua Tawanan Hamas Ini Desak Netanyahu Setujui Negosiasi Gencatan Senjata
Pejabat tersebut menambahkan bahwa perwakilan Hamas Khalil Al Hayya akan melakukan perjalanan ke ibu kota Mesir pada hari Senin untuk menyampaikan tanggapan.
Dalam sebuah pernyataan resmi pada awal tanggal 29 April, Hamas menegaskan bahwa mereka tidak mengeluarkan pernyataan apa pun atas namanya, atau menyebutkan sumber-sumber dalam gerakan tersebut, mengenai makalah tanggapan (Israel) yang mereka terima dari para mediator.
"Respon ini masih dalam kajian. Bocoran yang dikeluarkan beberapa media tentang hal ini bertujuan untuk menimbulkan kebingungan," tambah pernyataan itu.
Menurut laporan Axios pada tanggal 28 April, Israel, untuk pertama kalinya, memberi isyarat bahwa mereka terbuka untuk membahas diakhirinya perang.
Baca Juga: Hamas Terima Tanggapan Resmi dari Penjajah Israel Terkait Gencatan Senjata di Gaza
Israel telah mengusulkan, sejalan dengan inisiatif gencatan senjata Mesir, kesediaan untuk membahas pemulihan ketenangan 'berkelanjutan' di Gaza setelah pembebasan awal tahanan Israel yang ditahan di jalur tersebut, kata laporan tersebut.
Menurut dua pejabat Israel yang berbicara dengan jurnalis Axios Barak Ravid, proposal tersebut mencakup kesediaan Israel untuk membahas pembentukan gencatan senjata yang berkelanjutan sebagai bagian dari implementasi tahap kedua dari perjanjian tersebut, yang akan berlangsung setelah pembebasan sandera karena alasan kemanusiaan.
Namun, seorang pemimpin Hamas menanggapinya dengan mengatakan kepada Al Mayadeen bahwa usulan Israel 'tidak mencerminkan perubahan mendasar' dalam posisi Tel Aviv.