SENAYANPOST - Hamas belum lama ini menolak tawaran Israel untuk gencatan senjata selama dua bulan dengan imbalan pertukaran tawanan.
Hal ini disampaikan langsung oleh pejabat senior Mesir tanpa menyebut nama.
Sebelumnya, Israel mengajukan proposal untuk gencatan senjata selama dua bulan untuk mendapatkan warga yang ditawan oleh Hamas.
Namun, Hamas tetap pada pendiriannya yang meminta untuk gencatan senjata permanen.
Pejabat tersebut mengatakan bahwa para pemimpin Hamas juga menolak meninggalkan Gaza dan menuntut agar Israel menarik diri sepenuhnya dari wilayah tersebut dan mengizinkan warga Palestina untuk kembali ke rumah mereka.
Sementara itu, Israel tidak mengkonfirmasi laporan tersebut.
Baca Juga: Israel Punya Sistem Keamanan dan Militer Paling Canggih, Hamas: Tak Mampu Lindungi Mereka Sendiri
Berita Channel 12 mengutip pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan pada Selasa malam bahwa Israel belum diberitahu bahwa Hamas menolak tawaran tersebut.
Berdasarkan usulan Israel, Yahya Sinwar dan para pemimpin tinggi Hamas lainnya di Gaza akan diizinkan untuk pindah ke negara lain.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al Ansari memberikan nada optimis tentang upaya mediasi pada konferensi pers hari Selasa.
"Kami terlibat dalam diskusi serius dengan kedua belah pihak. Kami telah menyampaikan gagasan kepada kedua belah pihak. Kami mendapat banyak tanggapan dari kedua belah pihak dan hal ini merupakan alasan untuk optimis," kata Majed Al Ansari pada 23 Januari 2024, dikutip SenayanPost.com dari Times of Israel.
Situs berita Axios melaporkan pada hari Senin bahwa Israel telah mengajukan proposal melalui mediator Qatar dan Mesir yang akan menyetujui penghentian serangan militernya dengan imbalan pembebasan bertahap 136 sandera yang tersisa di Gaza.
Baca Juga: Kronologi Tewasnya 21 Tentara IDF oleh Sayap Militer Hamas di Hari ke-109 Perang
Usulan tersebut tidak mengindahkan permintaan Hamas agar Israel mengakhiri perang sepenuhnya, namun tampaknya melangkah lebih jauh dari tawaran Israel sebelumnya, kata dua pejabat Israel.