SENAYANPOST - Hamas baru-baru ini merilis dokumen sebanyak 18 halaman yang mengungkap alasan organisasi tersebut dan kelompok perjuangan Palestina lainnya melancarkan operasi Badai Al Aqsa pada 7 Oktober 2023.
Dalam dokumen tersebut Hamas menegaskan bahwa penjajahan dan kolonialisme di Palestina tidak berawal dari 7 Oktober 2023 tetapi 105 tahun yang lalu ketika negara tersebut dijajah oleh Inggris dan saat ini Israel.
Sebagaimana diketahui, Palestina sudah ada sebelum kaum Zionis datang yang akhirnya mendirikan negara Israel di tanah tersebut.
"Perjuangan rakyat Palestina melawan penjajahan dan kolonialisme tidak dimulai pada 7 Oktober, tetapi dimulai pada tahun 105 tahun yang lalu, termasuk 30 tahun kolonialisme Inggris dan 75 tahun tahun pendudukan Zionis," bunyi dokumen tersebut pada 21 Januari 2024 sebagaimana dilansir SenayanPost.com dari situs resmi Hamas.
Baca Juga: Sayap Militer Hamas Sergap 30 Tentara IDF, Kemungkinan Besar Tewas dan Luka-luka!
Seiring berjalannya waktu, wilayah asli Palestina terus berkurang karena diambil paksa oleh negara Zionis Israel.
"Dalam koordinasi antara otoritas kolonial Inggris dan Gerakan Zionis, mereka berhasil menguasai tidak lebih dari 6 persen tanah di Palestina dan menjadi 31 persen dari populasi sebelum tahun 1948 ketika Entitas Zionis berdiri diumumkan di tanah bersejarah Palestina," ungkapnya.
"Pada waktu itu, rakyat Palestina tidak diberi hak untuk mandiri. Tekad dan geng Zionis terlibat dalam suatu kampanye pembersihan etnis terhadap rakyat Palestina ditujukan dalam mengusir mereka dari tanah dan wilayah mereka," lanjutnya.
Selama puluhan dekade, orang Palestina menderita berbagai bentuk penindasan, ketidakadilan, pengambilalihan hak-hak dasar mereka dan kebijakan apartheid.
Misalnya, di Jalur Gaza pada tahun 2007 mengalami blokade selama 17 tahun dan mengubah tempat itu menjadi penjara terbuka terbesar di dunia.
Baca Juga: Hamas Serukan Pasukan Keamanan Otoritas Palestina Angkat Senjata ke IDF
Rakyat Palestina di Gaza juga menderita akibat lima perang yang merusak di mana Israel adalah yang melakukan banyak pelanggaran.
"Orang-orang di Gaza pada tahun 2018 juga memprakarsai demonstrasi Great March of Return untuk memprotes Israel secara damai blokade, kesengsaraan kondisi kemanusiaan mereka dan menuntut hak mereka untuk kembali. Namun, pasukan pendudukan Israel menanggapi protes tersebut dengan kekerasan brutal dimana 360 warga Palestina terbunuh dan 19.000 lainnya terluka termasuk lebih dari 5.000 orang anak-anak dalam hitungan beberapa bulan," terangnya.
Hamas juga menggaris bawahi sejak Januari 2000 hingga September 2023, setidaknya Israel telah membunuh 11.299 orang Palestina dan melukai 156.768 orang dan sebagian besar dari mereka adalah warga sipil.