Kemudian anak Ratu Tribuwana Tunggadewi yaitu Raja Hayam Wuruk pada tahun 1369 Masehi membangun candi yang oleh para arkeolog disebut Candi Angka Tahun karena bagian depan candi terdapat angka Aksara Jawa Kawi yang menunjukkan tahun 1291 Saka. Di dalamnya terdapat arca Ganesha dan bagian atas langit-langitnya terdapat simbol Surya Majapahit.
Selanjutnya Raja Wikramawardana yang merupakan keponakan Raja Hayam Wuruk pada tahun 1415 Masehi membangun petirtaan yang airnya jernih hingga saat ini di bagian paling timur Percandian Penataran sebagai bentuk cinta kepada istrinya Ratu Kusumawardani putri Raja Hayam Wuruk.
Selain itu terdapat relief pasukan yang mengenakan baju zirah yang menandakan bahwa pasukan majapahit dalam peperangan mengenakan pakaian zirah perang yang disebut siping-siping seperti yang dikenakan oleh Mahapatih Gajah Mada di Kraton Majapahit Jakarta. Berbeda dengan seragam perang prajurit Majapahit yang digambarkan para sejarawan orientalis yang mendeskreditkan bangsa-bangsa di Nusantara.
Percandian Penataran merupakan kesinambungan pembangunan yang tidak hanya lintas rezim politik kekuasaan akan tetapi juga lintas agama dan aliran kepercayaan, sehingga menjadi simbol toleransi yang nyata dan menjadi tauladan bagi kita semua.
Percandian Penataran dan Karnak Temple mengajarkan bahwa membangun peradaban suatu negeri dan bangsanya, harus berkesinambungan dan berkelanjutan, yang syarat utamanya adalah gotong royong dan rasa kebersamaan yang erat tanpa egoism yang dapat mengekang kaki kita untuk bergerak.