“Akhirnya yang yang tercatat itu segini, M (mone supply) = 1/rr (revenue ratio) x MB (monetary base),” lanjutnya.
Dengan rumus tersebut maka terlihat uang yang tercatat di seluruh bank menjadi Rp2000 triliun.
Lalu diteruskan lagi dengan rumus Y= C+I+G+ (X-M)
“Kalau Rp2000 triliun ini menaikkan konsumsi dan investasi maka Y-nya juga akan naik si PDBnya, inilah yang menyebabkan ekonomi roda Indonesia berputar,” hitungnya.
“Tapi Rp200 triliun itu bisa jadi obat tapi juga bisa jadi racun,” kata Alif.
Alif menjelaskan lagi dengan rumus M x V = P x Y.
“Kalau uang yang beredar (M) ini naik maka yang naik juga bisa jadi dua. Ruas kiri naik maka ruas kanan juga naik (dengan rumus di atas),” sebutnya.
Baca Juga: Presiden Prabowo Fokus Atasi Kesulitan Lapangan Kerja: Potensi ke Depan Sangat Besar
Bila M adalah uang yang beredar, V adalah kecepatan uang berputar, P adalah harga barang dan Y adalah PDB yang mana menunjukkan ekonomi tumbuh.
“Bila Y yang naik justru bagus ekonomi tumbuh tapi kalau P-nya yang naik ini bahaya,” ujarnya.
“Artinya harga barang jadi naik dan bisa sebabkan inflasi,” tandasnya.
Baca Juga: Prinsip Ekonomi Prabowo: BUMN Harus Bersih, Swasta Kuat, Koperasi Bangkit
Alif menegaskan bahwa uang Rp200 triliun ini haris dipantau.