IHSG dan Rupiah Anjlok, Analis Soroti Kerentanan Pasar Keuangan Nasional Terhadap Asing

photo author
Ragil Firdaus, Senayan Post
- Senin, 25 Mei 2026 | 17:19 WIB
Potret pengamat ekonomi politik pasar saham sekaligus pendiri FINE Institute, Kusfiardi. (Terpantau.com)
Potret pengamat ekonomi politik pasar saham sekaligus pendiri FINE Institute, Kusfiardi. (Terpantau.com)

SENAYANPOST - Kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan dan nilai tukar rupiah yang terjadi secara serentak sepanjang pekan ketiga Mei 2026 kembali membunyikan alarm bahaya bagi perekonomian nasional.

Koreksi tajam ini dinilai bukan semata-mata fluktuasi sesaat, melainkan sebuah manifestasi nyata dari kerentanan struktural pasar keuangan Indonesia yang masih sangat bergantung pada pergerakan dana asing.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar domestik belum memiliki instrumen pertahanan yang cukup mumpuni untuk meredam guncangan sentimen global secara mandiri.

Analisis tajam datang dari pengamat ekonomi politik pasar saham sekaligus pendiri FINE Institute, Kusfiardi yang menyoroti akar masalah dari kepanikan masal para investor belakangan ini.

Baca Juga: Respons MC Kalteng Expo Potong Aspirasi Jalan Rusak Viral, Netizen Geram

Sepanjang delapan belas hingga dua puluh dua Mei 2026, indeks saham domestik diketahui merosot tajam hingga mendekati ambang batas psikologis level enam ribu, beriringan dengan nilai tukar rupiah yang terkapar menembus angka tujuh belas ribu tujuh ratus per dolar Amerika Serikat.

Ia menegaskan bahwa kemerosotan ganda ini adalah sinyal ketidakpercayaan terhadap stabilitas sistem keuangan secara menyeluruh, bukan sekadar imbas sempit dari dinamika satu atau dua sektor industri.

Kusfiardi membeberkan bahwa rumor pembentukan Badan Ekspor Komoditas sejatinya hanyalah pemantik akhir dari rentetan tekanan yang sudah terakumulasi sejak lama.

Terdapat faktor krusial lain yang lebih mendasar seperti derasnya pelarian modal asing, perombakan indeks global MSCI yang mendepak beberapa emiten raksasa, hingga tren penguatan dolar Amerika Serikat yang menekan likuiditas.

Baca Juga: Tokoh Adat Papua Selatan Dukung Penuh Proyek Cetak Sawah Milik Haji Isam

"Yang terjadi bukan hanya koreksi biasa. Pasar sedang menunjukkan bahwa struktur pasar keuangan Indonesia masih rapuh, terlalu bergantung pada foreign flow, dan belum memiliki kedalaman domestik yang cukup kuat untuk menyerap shock eksternal," tutur Kusfiardi saat memaparkan analisisnya terkait fenomena ini.

Lebih lanjut, ia menyoroti respons agresif dari otoritas moneter yang menaikkan suku bunga acuan sebesar lima puluh basis poin menjadi lima koma dua lima persen. Langkah pengetatan ini sayangnya justru dibaca oleh pelaku pasar sebagai sebuah konfirmasi tegas atas besarnya skala tekanan eksternal terhadap ekonomi negara.

Ironisnya, tekanan masif ini berbanding terbalik dengan fundamental perusahaan komoditas dalam negeri yang sebenarnya masih sangat tangguh, sehat secara finansial, dan didukung penuh oleh program biodiesel nasional milik pemerintah.

Bercermin dari rentetan gejolak ekstrem pada bulan ini, reformasi struktural bursa saham nasional kini berubah dari sekadar wacana perdebatan menjadi sebuah kebutuhan mutlak yang sangat mendesak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ragil Firdaus

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X