SENAYANPOST – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Fadli Zon, S.S., M.Sc. mengapresiasi inovasi perumusan Aksara Nusantara yang diinisiasi oleh Kraton Majapahit Jakarta.
Apresiasi tersebut disampaikan secara langsung dalam kunjungan kerjanya menghadiri demonstrasi penulisan Aksara Nusantara di Kraton Majapahit Jakarta pada Rabu (12/8/2026).
Ketua Kraton Majapahit Jakarta, Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono, mengungkapkan bahwa perumusan Aksara Nusantara ini merupakan hasil kerja keras dan kajian mendalam.
Aksara pemersatu tersebut dirumuskan selama satu tahun dengan melibatkan para pakar serta akademisi dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta.
Baca Juga: Persiapkan Sosialisasi, Menteri Budaya RI Akan Undang Tim Aksara Nusantara Kraton Majapahit Jakarta
"Setelah satu tahun, para ahli telah merumuskan Aksara Nusantara," ujar Hendropriyono dalam sambutannya di Balairung Gajah Mada.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyambut antusias langkah pelestarian budaya tersebut. Ia menjelaskan bahwa tim penyusun Aksara Nusantara berhasil melakukan inventarisasi dan mencari titik temu akar dari berbagai aksara daerah di Indonesia. Hasil formulasi dari persamaan tersebut kemudian disatukan menjadi purwarupa Aksara Nusantara.
"Apa yang beliau lakukan ini adalah bagian dari upaya untuk kemajuan kebudayaan kita, terutama dalam bidang aksara dan bahasa. Saya kira ini inovasi yang luar biasa, out of the box ya Pak Hendro ini, tidak pernah kekurangan ide," tutur Fadli Zon.
Kekayaan Bahasa dan Adaptasi Zaman
Fadli memaparkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat keanekaragaman yang masif (mega diversity).
Baca Juga: 17 Ide Lomba Agustusan di Kantor, Individu sampai Kelompok, Pasti Seru!
Saat ini, Indonesia memiliki 1.034 etnis dan 718 bahasa. Selain itu, Nusantara juga memiliki kekayaan sekitar 15 hingga 30 aksara lokal, seperti aksara Jawa, Sunda, hingga Makassar.
Penyatuan rumusan Aksara Nusantara dari berbagai kekayaan lokal ini dinilai sebagai pencapaian besar.
Pemerintah berencana untuk mengkaji lebih dalam purwarupa aksara tersebut agar kelak dapat diuji coba dan disosialisasikan secara lebih luas di tingkat nasional.