nasional

Hendropriyono Pertanyakan Kendaraan Politik untuk Wujudkan Gagasan Kiki Syahnakri dalam Buku Menata Ulang Reformasi

Rabu, 19 Agustus 2026 | 15:14 WIB
Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono menanggapi buku terbaru Kiki Syahnakri yang berjudul Menata Ulang Reformasi. (SenayanPost.com)

SENAYANPOST - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono menilai gagasan yang disampaikan Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri dalam buku Menata Ulang Reformasi perlu didorong lebih jauh agar tidak berhenti sebagai wacana intelektual.

Hendropriyono mempertanyakan mekanisme politik yang dapat menjadi kendaraan untuk menerjemahkan gagasan tersebut menjadi kebijakan negara.

"Saya ingin bertanya kepada Saudara Kiki Syahnakri dan para pembahas: bagaimana gagasan yang baik ini dapat memperoleh kendaraan politik untuk menjadi kenyataan?" ujar Hendropriyono pada 18 Agustus 2026 sebagaimana keterangan yang diterima redaksi SenayanPost.com.

Menurut Hendropriyono, buku Menata Ulang Reformasi memiliki kesinambungan dengan karya-karya Kiki Syahnakri sebelumnya.

Baca Juga: Dukung Sosialisasi Pisah Sampah, AM Hendropriyono Gelorakan Perang Semesta Melawan Sampah

Ia melihat pemikiran Kiki konsisten, tematis, dan berangkat dari kegelisahan terhadap arah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun, menurutnya, persoalan yang lebih penting saat ini bukan sekadar menentukan apa yang perlu ditata ulang, melainkan siapa yang mampu menjalankannya, mekanisme yang digunakan, serta bagaimana kemauan politik dapat dibentuk.

Karena itu, Hendropriyono mengajukan dua pertanyaan utama.

Pertama, terkait proses pengambilan keputusan di internal partai politik.

Ia menilai gagasan besar mengenai pembenahan negara pada akhirnya harus melewati proses keputusan politik.

Baca Juga: Resmikan Turnamen Sepak Bola, Hendropriyono Jadikan Olahraga Sarana Pelestarian Budaya

Menurutnya, penting untuk melihat sejauh mana tokoh-tokoh partai memiliki ruang dan kekuatan untuk membawa gagasan seperti yang disampaikan Kiki menjadi kemauan politik di partainya masing-masing.

"Kalau partai politik tidak berhenti pada tujuan memperoleh dan mempertahankan kekuasaan, tetapi juga menjadi tempat lahirnya negarawan, saya kira pemikiran Pak Kiki tidak akan berhenti sebagai wacana intelektual," katanya.

Halaman:

Tags

Terkini