nasional

Kraton Majapahit Jakarta Sambut Tokoh Pagaruyung, AM Hendropriyono Tekankan Saling Keterkaitan Kebudayaan di Nusantara

Jumat, 3 Juli 2026 | 19:15 WIB

SENAYANPOST - Kraton Majapahit Jakarta pada Jumat 3 Juli 2026 menyambut kedatangan Tokoh Pagaruyung Sumatra Barat KPH Sutan Muhammad Yusuf Tuanku Mudo Rajo Disambah beserta istri KRAy Puan Puti Israbetyetti Paramitha Wulandari dan Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan Kementrian Kebudayaan RI Feri Arlius Datuk Sipado.

Ketiganya menikmati kemewahan Kraton Majapahit Jakarta dipandu oleh salah satu punggawa Kraton Majapahit Jakarta, Susi Susanti mengelilingi Tamansari Maharatu Tribhuwana Tunggadewi, Pendopo Agung Maharaja Hayam Wuruk, Alun-Alun Kartarajasa dan Balairung Mahapatih Gajah Mada.

Menyambut kedatangan ketiganya, Pendiri dan Ketua Kraton Majapahit Jakarta Jenderal TNI (Purn) Prof Dr AM Hendropriyono menjelaskan bahwa keberadaan Kraton Majapahit Jakarta adalah untuk mendukung Pemerintah Republik Indonesia dalam bidang kebudayaan.

"Kami berusaha untuk mendukunh Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kebudayaan, dalam partisipasi Kebudyaan Nusnatara kita yang pernah cemerlang pada masanya. Majalah Sinar Hindia tahun 1905, saya lihat menggambarkan seolah kedatangan Bangsa Barat untuk membuat kita beradab. Itu karena berkibar di media internasional, maka generasi penerus banyak mengalami kegelapan sejarah," tegasnya.

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) 2001 - 2004 ini mengaku tertarik dengan Kerajaan Pagaruyung Sumatra Barat yang secara kultur dan budaya berbeda dengan Masyarakat Melayu yang cenderung berprofesi sebagai pedagang. Sedangkan Masyarakat Minangkabau memiliki karakter merantau keluar daerahnya.

"Saya pikir Orang Awak secara budaya adalah Melayu sedangkan secara kultur tidak karena karakternya berbeda. Minangkabau itu sistemnya matriarkha, sedangkan Melayu patriarkha. Saya tertarik mendalami tapi ujung-ujungnya adalah kita adalah satu kesatuan. Alangkah mulianya jika kita menyatukan kembali," jelasnya.

Penggagas Aksara Nusantara ini menjelaskan bahwa Aksara Nusantara yang dikembangkan oleh Kraton Majapahit Jakarta merupakan pelengkap dari Sumpah Pemuda yang telah dikaji secara filologis dan linguistik.

"Aksara Nusantara ini persis dengan arahan Menteri Kebudayaan Fadli Zon untuk menggagas Aksara yang ilmiah. Kita menggunakan pendekatan filologi dan linguistik dari seluruh aksara di Nusantara. Filologi menjelaskan hubungan antar aksara di nusantara terbaca jelas dikaji oleh para pakar dari UGM, UNY, UNJ, ISI Yogyakarta dan UIN Alaudin Makassar. Kedua dari fonologi, kenapa dari Nusantara ini sama yaitu bunyi (A), Kita langsung tarik, sehingga jadi rumuskan menjadi Aksara Nusantara," ungkapnya.

Tokoh Pagaruyung Sumatra Barat KPH Sutan Muhammad Yusuf Tuanku Mudo Rajo Disambah menjelaskan bahwa Majapahit dan Pagaruyung memiliki ikatan yang sangat erat karena Raja Adityawarman adalah sepupu dari Raja Jayanegara dari pihak ibu.

"Antara Pagaruyung dan Majapahit, dari cerita lisan dan literasi yang saya baca, bahwa keduanya mempunyain ikatan yang tidak bisa dipisahkan. Adityawarman memiliki kemampuan beladiri, mendampingi misi Sumpah Palapa. Adityawarman dikirim ke China belajar militer hingga dapat pangkat setara panglima. Kerurunan Adityawarman terus menerus sampai saat ini masih berdiri walaupun secara sejarah dan budaya," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan Kementrian Kebudayaan RI  Feri Arlius Datuk Sipado mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian dan peran yang penting kepada raja-raja di Indonesia sebagai pemangku budaya dan pewaris raja-raja terdahulu yang mendukung terbentuknya Republik Indonesia. 

"Dengan terbentuknya Kementerian Kebudayaan, artinya atensi Pemerintah kepada kebudayaan lebih besar. Alhamdulillah, Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan direktif kepada Menteri Budaya Fadli Zon untuk memperbaiki museum dan istana raja-raja. Presiden memperhatikan peran raja-raja terdahulu unruk terbentuknya Indonesia," jelasnya.

Tags

Terkini